Terpaku dengan derai ombak dipelabuhan
Terjatuh hembusan angin kesungguhan
Pikiran tak selalu padam alam keheningan
Khazanah ilmu sampai terbentang kegirangan
Sungguh tak terbayangkan !!
Alur jalan menghadang kalbu
Bak badan dikerumuni debu
Tirai hati berselimut salju
menghadang jagad penuh batu
Dinamika kehidupan membuka jendela ku.....
Sorak menyorak gagasan rumahku
menentang menyerang jarum kegelapan
membentuk benteng kepribadianku
mengaum gemuruh di tiang kemenangan
Semut kecil kasih lihat dimana tanganmu
Aku tak tahu mana jari mana tangan ,
Tetap pada urat pusatku tinggal gerhana
kurasa kau tak pernah bohong,pahit empedu dan manis madu
jujur kata ku ,siap tuk mengadapi luas samudera
apa takut dengan tajam binalu ,
sampai akan ku singkir kan binalu -bialu
sikap ku kukuh seperti karang dilautan.pecahkan semua
rasaku rasamu ,obor lembayu Mu tetap bersinar terang
gerhana,serakkan tintah Mu pada dinding pendopo itu
datuk nyalakan bara api nankuat,
zaitun zaitun muda harumkan pada pelekat
tetap perjuangan tak akan henti dan berhenti
syairku terikat bunga tanamanMu
Semut kecil kasih lihat dimana tanganmu
Aku tak tahu mana jari mana tangan ,
Tetap pada urat pusatku tinggal gerhana
kurasa kau tak pernah bohong,pahit empedu dan manis madu
jujur kata ku ,siap tuk mengadapi luas samudera
apa takut dengan tajam binalu ,
sampai akan ku singkir kan binalu -bialu
sikap ku kukuh seperti karang dilautan.pecahkan semua
rasaku rasamu ,obor lembayu Mu tetap bersinar terang
gerhana,serakkan tintah Mu pada dinding pendopo itu
datuk nyalakan bara api nankuat,
zaitun zaitun muda harumkan pada pelekat
tetap perjuangan tak akan henti dan berhenti
syairku terikat bunga tanamanMu
palangki,10 dec 2011
Setiap hari bersepeda ke kampus
CINTA SEPEDA :beberapa anggota Komunitas bike to campus dan Fixie rider padang mengikuti acara gowes malam Padang bike club di Taman Budaya, Padang.
Dahulu sepeda menjadi alat tranfortasi paling utama dalam masyarakat dunia.Rasanya belum lengkap hidup ini,jika belum punya sepeda ,seiring perjalanan waktu ,masyarakat kini banyak meninggalkan sepeda ,karena menjamurnya sepeda motor dalam dekade ini.Namun tidak demikian dengan ada beberap orang mahasiswa dan generasi muda yang sangat dalam menggagaskan aktifitas bersepeda untuk menjalankan kegiatan positif ,karena meraka tetap mencintai sepeda.
Dari berputarnya waktu, sekelompok dari mahasiswa Universitas Bung Hatta khususnya FKIP mereka sekedar duduk-duduk di taman perpustakaan kampus hanya sekedar ngobrol dan canda tawa,maka dari hal itu terbuka sebuah gagasan yang menimbulkan diskusi panjang,dalam diskusi tersebut meraka membicarakan tentang bagaimana sepeda teracuni oleh semua kalangan mahasiswa ,khususnya mahasiswa UBH ,diskusi tersebut terjadi pada tanggal 23,Agustus 2010.Hasil diskusi meraka mendapatkan satu titik temu yaitu membuat sepeda berwarna warni dari bahan sepeda bekas atau lama ,yang ide itu timbul karena mereka melihat video clip lagu dari negara Paman Sam,karena dalam video tersebut semua manusia di negri itu memakai sepeda yang berwarna warni dan tapak indah bersama-sama,sepeda tersebut dinamakan Fixie Bike,kerana yang paling menonjol dari sepeda itu adalah warna dan kontruksinya yang bisa mundur.sepeda ini sangat serasi dengan kaula muda pada umumnya.Jadi terngiang dari pikiran mereka untuk membuatnya dan sepontan mereka langsung mengambil sampel dari batang sepeda onhtel dan mendisain seperti sepada yang mereka inginkan,berbulan bulan mereka membuat sepeda tersebut,karena sepeda itu belum tersebar keseluruh Indonesia,dan sangat sulit untuk mencari bahan dan kontruksinya,ada yang memesan barang ke pulau jawa,yang ada hanya di Surabaya dan Bandung,dikarnakan tidak ada di Padang pada waktu itu.
Pada awal November 2010,beberapa sepeda telah selesai dan siap untuk di publikasikan ke halayak ramai. Dengan penuh semangat dan gembira mereka mengendarai sepeda setiap hari, baik kekampus maupun mengelilingi kota Padang,yang diiringi oleh selogan mereka (terwujudnya bersepeda kekampus dan memasyarakatkan bersepada kepada mahasiswa).Menit menjadi jam,hari demi hari menjadi minggu mereka juga menjalin hubungan silaturrahmi dengan para penggagas komunitas sepeda di kota Padang tercinta.Faktanya,sampai sekarang telah mebooming komunitas sepeda dikota ini,misalnya telah berdiri Padang Bike Club,Fixie Rider Padang,NRA,Padang bike to campus UBH dan UPI.Oleh karena itu mereka tak asing lagi oleh para bikers komunitas sepada di kota padang,maka mereka adalah sang penggagas bike to campus ditinjau dari perjalanan dan tujuan mereka,mereka genererasi muda yang mempunyai gagasan dalam memberi warna baru untuk bangsa negara ,thanks to:Soni Sikumbang, Fedo Ambon, Gema maulid, Ardi Kidds, Fadhlur Rahman(acik),Muhammad Ihsan, Ilham Ilahi,mereka semua ini mahasiswa dan generasi bangsa yang telah menciptakan komunitas Padang Bike Club, Fxie Rider, Bike to Campus,yang telah berumur hampir 2 tahun.
Jadi bersepeda bukan hal yang kerdil dan kampungan,sepeda adalah suatu bentuk kreatifitas, hobidan mentalitas dalam mensederhanakan diri mencegah dari pemborosan dan lebih utama menjaga kesehatan,hendaklah mahasiswa berperanpenting untuk mengalangkan bersepeda untuk mengetahui makna kesederhanan yang sejujurnya.SALAM GO GREEN!!(Bike to Campus).
Terpaku dengan derai ombak dipelabuhan Terjatuh hembusan angin kesungguhan Pikiran tak selalu padam alam keheningan Khazanah ilmu sampai terbentang kegirangan Sungguh tak terbayangkan !! Alur jalan menghadang kalbu Bak badan dikerumuni debu Tirai hati berselimut salju menghadang jagad penuh batu Dinamika kehidupan membuka jendela ku..... Sorak menyorak gagasan rumahku menentang menyerang jarum kegelapan membentuk benteng kepribadianku mengaum gemuruh di tiang kemenangan itulah sorga jendela gagasan rumaku.......
Dimano kain kabaju, diguntiang indaklah sadang, lah takanak mangko diungkai, di- mano nagari namuah maju, Adat sajati nanlah hilang, dahan jo rantiang nan dipakai. Kamajuan suatu negri di Minangkabau, tidak akan dapat dicapaidengan baik, kalau kiranya ajaran Adat diamalkan tidak sepenuh hati, atau tinggal sebutan
Ratak limau dek binalu Tumbuah sarumpun di tapi tabek Kok abih raso jo malu Bak kayu tangga pangabek
sagan mayagan dan raso jo pariso itulah ciri urang minag
Melihat dari kondisi sekarang ini yang semakin parah dan mulainya pudarnya pemahaman budaya dan adat Minangkabau, dan merasa prihatin. tak bisa lagi mungkir atau mengelak dari realitas yang ada, sebuah kenyataan betapa orang muda Minang hari ini telah mengalami suatu masa perubahan corak dan lagak gaya hidup. Saat ini, di mana terjadi pergeseran nilai secara besar-besaran, gaya hidup serba digital dan instan sangat cepat merasuki tatanan hidup masyarakat dunia tidak terkecuali masyarakat Sumatera Barat (Baca orang muda Minang). Sebuah kekuatan hebat telah menjelma, ketika televisi telah memainkan perannya hingga ke pelosok taratak, membuat mata orang muda Minang terkesima, maka paruh-paruh industri pun mencengkram dengan kuatnya. Sehingga sebuah contoh sederhana, betapa hal yang tidak mengherankan ketika model baju terbuka yang memperlihatkan bentuk dan keindahan tubuh menjadi pusat mode (trensenter), meski bertentangan dengan adat yang bersandikan syarak kitabullah, namun apa dikata, model dan gaya hidup yang disodorkan kotak ajaib yang bernama televisi ini seperti tuhan yang selalu dipuja-puja. Mengapa gaya hidup semakin penting hari ini, apakah gaya hidup itu berarti ekspresi yang mengandung muatan positif, ataukah sebuah bentuk eksploitasi baru?
Melihat pudarnya budaya dan adat Minangkabau diantara masyarakat Sumatera Barat (Baca orang muda Minang) itu sendiri, tentu perlu kita ketahui apa yang menyebabkan hal itu dapat terjadi. Adat tidak lagi dijadikan sebagai landasan kehidupan bermasyarakat. Wibawa ninik mamak sebagai pemangku adat sudah lama hilang, beliau tidak dapat lagi mangabek arek mamancang patuih, ka pai tampek batanyo ka pulang tampek babarito.
Beberapa waktu belakangan ini, banyak perilaku menyimpang yang ditunjukkan masyarakat Minangkabau pada umumnya dan remaja Minangkabau pada khususnya, antara lain:
1) Anak jalanan yang kian hari kian bertambah, diberbagai tempat umum di kota-kota Sumatra Barat, kemanakah perginya falsafah “anak dipangku kemenakan dibimbing?” Apalagi yang menjadi anak jalanan tersebut anak perempuan, yang pada merekalah keberlangsungan sistem matrilineal ini digantungkan.
2) Lebih lanjut model berpakaian anak-anak remaja Minangkabau yang secara normatif jauh dari budaya dan adat Minangkabau. Dimana-mana kita dapat melihat anak perempuan berpakaian ketat dan terbuka, tidak hanya di tempat hiburan tetapi juga di tempat umum dan kampus-kampus. Kondisi ini mencerminkan longgarnya kontrol keluarga dan sosial. Dan tidak suatu Iembaga atau organisasi wanita yang mampu menjaring (merazia pakaian bikini/ketat ini) kalau ada hanya sebatas wacana. Lalu dimanakah letaknya Adat Basandi Syara’-Syarak Basandi Kitabullah? Bahwa perempuan Minangkabau itu ka unduang-unduang ka Madinah ka payuang panji ka sarugo.
Demikian juga halnya dengan pakaian jilbab, jilbab atau pakaian atau pakaian muslimah akhirnya tidak lebih sekedar mode yang membentuk pasar potensial baru, sebab itu dibarengi dengan baju yang ketat dan celana yang sempit hingga menampakkan pusar. Kemana perginya lembaga dan organisasi kewanitaan masyarakat Minangkabau? Tidakkah hal ini termasuk dalam program pemberdayaan perempuan?.
3) Satu hal lagi realitas perempuan Minangkabau saat ini adalah meningkatnya tindak kekerasan dan perkosaan terhadap anak perempuan. Bahkan disinyalir tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak di Sumatra Barat tahun 2005 menduduki peringkat tertinggi di Indonesia. Baik pencabulan, pelecehan seksual, penganiayaan dan perkosaan, umumnya anak berusia 4-12 tahun (di bawah umur). Yang lebih memprihatinkan lagi umumnya pelaku adalah orang yang dekat dengan korban. Jika dilihat lebih lanjut umumnya terjadi pada lingkungan terdekat seperti di rumah, tempat bermain, sekolah bahkan tempat mengaji. Banyaknya masyarak Minangkabau terutma para remaja yang tidak lagi mengenal adat, sopan santun, dan tata krama dalam adat Minangkabau.Dan berbagai penyimpangan lainnya yang tidak tersebutkan dan /atau telah menjadi rahasia umum yang telah diketahui orang banyak dan kita hanya “menutup mata” atas masalah ini.
Ketika kurangnya figur yang dapat diangkat menjadi pemangku adat, hal tersebut dikarenakan terbukanya kesempatan merantau sehingga pemuda-pemuda Minangkabau pada tumpah ruah ke rantau orang. Jadi tidak banyak pilihan yang dapat dilakukan untuk memilih calon pemangku adat atau calon penghulu. Namun lain lagi halnya apabila pemuda-pemuda kembali ke kampung halam untuk memajukan kampung halaman.a) Tidak adanya persiapan atau pengkaderan terhadap calon-calon pemangku adat atau penghulu tidak mempunyai persiapan yang cukup, malah ada yang tidak punya sama sekali persiapan ilmu pengetahuan tentang adat serta kesiapan pribadi sebagai “figure” seorang pemimpin yang siap menjadi teladan dalam masyarakat.
Pesatnya kemajuan bidang teknologi, sehingga jarak kota besar dengan daerah sudah sangat dekat, apa saja yang terjadi di belahan dunia lain dapat disaksikan pada detik yang sama dari pelosok-pelosok di ranah Minang. Hal itu sangat berpengaruh terhadap pola kehidupan bermasyarakat di ranah Minang.Contoh pergeseran nilai budaya Minangkabau menjadi nilai budaya yang “kebarat-baratan’ yang men”Tuhan”kan kebebasan. Tapi kebebasan yang bagaimana? Yaitu kebebasan yang bebas tanpa batas. Baru-baru ini peristiwa yang menghebohkan di Padang, Sumatera Barat. Rencananya akan diadakan suatu lemba yang mengusung seberani apa wanita muda Minangkabau untuk menggunakan celana sependek mungkin di tempat umum.
Untuk itu, hal yang harus dilakukan adalah dengan mengenal budaya dan adat Dengan begitu akan mengenal budaya , dengan mengenal budaya dan adat sendiri maka akan mencintai itu semua.
Dengan meminjam isi novel karangan Michael Dibbi, Dead Lagoon:”Tidak ada kawan sejati tanpa musuh sejati. Jika kita tidak mampu membenci apa yang kita benci, kita tidak akan mampu mencintai apa yang kita cintai. Itulah kebenaran-kebenaran masa lalu, yang secara menyedihkan kembali kita bangkitkan setelah terpendam selama satu abad bahkan dalam bentuk yang lebih sentimental. Barangsiapa yang mengingkari semua itu, berarti mengingkari nenek-moyang, warisan, kebudayaan, dan bahkan kelahiran mereka sendiri, milik mereka sendiri! Semua itu tak mungkin dapat terlupakan”.semoga terwujudnya minangkabau yang sebenarnya minangkabau,yaitu :adat basandi sarak , sarak basandi kitabullah.