Rabu, 11 Maret 2015

Ashelfine, Merangkai Konsep JES dengan Konsep Bung Hatta “(Untuk Ekonomi Nagari)

(Pepen memakai baju putih kopia hitam)

“Saya kira, banyak sekali gagasan ekonomi Bung Hatta yang sangat relevan sekarang. Itu sangat penting diulas,”Pepen

PEPEN - Selama ini, karya-karya pemikir ekonomi dari luar, seperti Adam Smith, David Ricardo, John Maynard Keynes, John Kenneth Galbraith, dan lain-lain, cukup akrab di telinga kita. Namun, karya-arya pemikir ekonomi bangsa sendiri kurang terulas. Padahal, banyak pemikiran ekonom bangsa sendiri itu justru relevan untuk konteks Indonesia. Apalagi Kabupaten Sijunjung yang memiliki delapan nagari yang mempunyai masing – masing kekayaan alam dan ciri khas dalam peningkatan ekonomi.

Menurut Pepen, di tengah berkecamuknya krisis ekonomi dunia, pemikiran Bung Hatta justru menemukan relevansinya. “Saya kira, banyak sekali gagasan ekonomi Bung Hatta yang sangat relevan sekarang. Itu sangat penting diulas,” sambut Pepen Acara itu berlangsungdi nagari Padang Laweh, pada hari Selasa kepada awak media Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Nagari(10/3).

Hal itulah yang mendasari Percik salah seorang yang sekarang menjadi buah bibir masyarakat dan juga sebagai calon Bupati Kab. Sijunjung, seorang tokoh muda Ashlefine yang akrab dengan panggilan Pepen,  untuk menggelar silaturrahimbersama tokoh adat dan masyarakat Padang Laweh dengan tema Akrab, Bersahabat dan Sepakat untuk meninggkatkan ekomoni nagari dengan Jaringan Ekonomi Sijunjung (JES) “Dengan konsep JES saya membicarakan dengan bapak-bapak sebagai tokoh adat dan masyarakat, sebab beberapa Fasal Ekonomi” karya Bung Hatta selalu saya terapkan, apalagi beliau bapak ekonom Indonesia ini bersala dari ranah Minangkabau, tentu lebih mafhum ekonomi di ranah minang dan sesuai dengan adat dan budaya urang awak” jelasnya

Pembicaraan demi membicarakan seputar ekonomi dan bagaimana permasalahan di masyarakat, terkhususnya nagari Padang laweh sangat antusian mendengarkan untuk mendapatkan solusi dan penerangan kala konsep JES ini mereka ketahui. Menurut Pepen JES sangat cocok dalam peningkatan ekonomi di nagari padang laweh. Pasalnya Padang Laweh telah mempunyai karya dalam sub peningkatan ekonomi yaitu dengan product lapiek pandan yang sekrang masyarakat Sijunjung telah mimilikinya, pepen menjelaskan pada product lapiek pandan tersebut supaya memiliki keseriusan untuk memperluaskan dalam area pemasarannya, dan memperkuat jaringan dengan tujuan nilai atau hasil karya anak nagari Padang Laweh, alhasil product tersebut mendapatkan tempat dan nilai yang berharga dikanca nasional, dengan asas menggunakan konsep JES.

”Lapiek pandan telah mendapingi usaha saya dalam kuliner khususnya resto dipekanbaru, orang yang datang ke resto saya, bertanya lapiek pandan yang menjadi interior resto ini bisa membuming ke kanca nasional pak, apalagi harganya sangat miring sekali. Itu yang mereka sampaikan kepada saya sambil minunm kopi” jelas pepen ditengah tokoh masyarakat Padang Laweh.

Pepen pun mengupas lima ciri pemikiran konsep Jaringan Ekonomi Sijunjung. Pertama, menjamin kemakmuran bersama. Hal ini, kata dia, karena dengan JES mengusung bentuk organisasi produksi yang bersifat kolektif. “Bung Hatta selalu menekankan pentingnya membangun usaha bersama,” tuturnya.
Kedua, adanya pengawinan terhadap demokrasi politik dan demokrasi ekonomi. Pepen mengurai kesimpulan ini di kombinasikan dari konsep Bung Hatta mengenai demokrasi asli Indonesia, yang menggabungkan antara pemenuhan hak-hak politik, seperti rapat/pengambilan keputusan secara kolektif dan kepemilikan alat produksi secara kolektif.

Ketiga, sosialisme koperatif. Maksudnya, kata Pepen, koperasi dirancang bukan hanya untuk menyatukan usaha kecil-kecil, tetapi juga bisa dipraktekkan dalam perekonomian di nagari nagari. “Tentu saja, ketika perekonomian di nagari sudah berbentuk usaha bersama, kita sudah siap bertransisi menuju sosialisme,”tegasnya.

Keempat, adanya peran pemerintahan nagari yang kuat. Menurut Pepen, konsep JES akan berperan di nagari nagari , maka nagari yang kuat akan tercermin pada konsep “politik perekonomian”. Itulah yang disebut Politik perekonomian, untuk cita-cita mendatangkan kemakmuran.

Kelima, adanya semangat percaya pada kekuatan sendiri (Self Help). Dengan melalui koperasi, ujar Pepen, ia  berharap agar menemukan menemukan kepercayaan diri dan dan bisa menggunakan kemampuannya untuk membangun ekonomi. “Percaya pada diri sendiri itu penting, untuk memerangi penyakit yang selalu merasa rendah diri dan merasa tidak mampu di hadapan masyarakat lain, toh kita mempunyai kelebihan dari yang lain” tegasnya.

Dalam agenda ini, Pepen mengadvokasi konsep Bung Hatta dengan Konsep JES tentang koperasi sebagai senjata melawan eksploitasi kapitalisme, termasuk korporasi global. Caranya, kata dia, dengan menyatukan ekonomi rakyat yang kecil-kecil ke dalam koperasi. jika kekuatan ekonomi kecil-kecil ini disatukan, maka yang kecil bisa mengimbangi kekuatan modal besar, “Terbantu dan terpenuhinya kebutuhan masyarakat atas aktivitas ekonomi merupakan tujuan utama perekonomian,sedangkan keuntungan dari aktivitas ekonomi merupakan bonus dari perekonomian” pungkasnya dengan berpilosofi Bung Hatta.

Minggu, 08 Maret 2015

SEBUAH KABAR PERISA dari LEMBAH*



 
Ditulis OLeh : FRA atau dengan nama palsu Fadhlur RahmanAhsa, lahir pada 8 November 1986, di Palangki. Sekarang bergiat dan penggerak Komunitas Sahabat Pituluik,  Dewan Rumpun Sastrawan Lansek Manih, dan Juga menjadi Anggota  Forum Aisiteru Menululis Indonesia (FAM Indonesia) Periode 2014.



Sebuah kabar nan bertebaran dari lembah tentang gering waktu yang tak memenggal kelalaian menjadi keseriusan, malah buah bibir untuk disesali. Maka saling berkabarlah anak manusia mengenai kabar gerang dan kehilangan asa. Berita yang menggemparkan dinegeri kami menjadi-jadi, lahir, hadir, mati dan hilang adalah bilangan genap yang tanpa pilihan. Dia bukan sesuatu yang ganjil. Bilangan itu saling menggenapkan.
Merecup dan menajuk tetang asmara kehidupan, begitupula ihwal kematian. Dia memeberikan ruang tanpa ganjilnya pada generasi perunduk untuk menjadi tunduk. Disitulah terjadinya persalianan peran diatas panggung yang selama ini mereka kuasai. Tak ada penyegaran tentang pengakuan  mengenal Haq dan bathil, dan timbulnya penumpukan opini, gila memang sesaat, tapi sakitnya berulang ulang.
Fase-fase kesesatan menjadi suksesi ganti-mengganti, namun pengakuan sosial hanya sebatas hina dina. Keberanian moral terbungkam pada kesesatan kekuasaan semata, segala hamun dilemparkan begitu saja kepada perisa kumuh tak berarti. Sesungguhnya kita tak siap duduk dibelakang panggung, saban hari, pengusa diatas panggung hanya alat untuk mengukur panjang pendeknya jalan, tak mengira jalan itu bergelombang atau serakan kerikil bak kabar petakut yang selalu jadi ancaman para pejalan ditengah jalan.
Begitulah kisah demi kisah yang melanda sumur mata air rakyat jelata, selalu memlilit tiap akar rumput yang hidup dilingkaran suur mata air itu, jangan sampai sumur yang ada kering kerontang oleh kepalsuan semata. Dari sini timbul derivasi tindakan manusia: sejujurnya  di negeri bertuah ini tak ada tempat bersandar, dan peluang untuk orang yang baik. Kaidah birokrasi menganggkat delema kehidupan bertele-tele, yang ujung ujungnya mengemis kembali. Tambah dari ihwal lembaga-lembaga yang kononnya, penjaga dan pengawal nilai-nilai leluhur sebagai penjaga adat  nan kawi dari tiang negeri, tak sedikit anggapan menjadi pilunya alkisah dan raut semberaut negeri ini ketika untuk memilih.
Merujuklah pada masa semua anak orang untuk memilih, tak satupun bersua nak mejalin kasih, malah saling sakit menyakiti. Dendam birahi menjajaki, macam tak akan jumpa lagi. Musim ini hanya segmentasi belaka, bukan tolak ukur bagaimana susunan rumah tangga menjadi tempat untuk pertumbuh dalam kurun amat sangat singkat dan singkat. Namun kita tidak bisa kabur, lari dan menghilang beitu saja, sewaktu rumah itu akan disusun ditata lagi.
Disini, pada detik ini , dan di tempat ini,  semua orang menumpahkan watak dasar walau kasar, semua yang ada, menjelma bagai riang gembira, dari kasat mata rumah itu tidak berpenghuni, malah kita masih bersigau hendak mentabalkan diri selaku pewaris tunggal negeri ini. Walhasil kerja serabutan harga diri tak bisa kembali “moral” dan “kesejahteran” hanya untuk mereka pribadi. Rumah mana yang kita tempati?  itulah parameter kenapa ? karena kita tak pernah belajar untuk kalah, untuk mengalah selangkah mungkin saja. Disinilah, diwaktu ini pula rumah itu bisa kita benahi dengan kunci gontoroyong atau asa kebersamaan dengan melilit pada adat nan kawi. 

Senin, 02 Maret 2015

Ashelfine : Dukungan Ikatan Perantau Sijunjung Se- Indonesia untuk memimpin Sijunjung BA 1 K.


Foto Fadhlur Rahman Ahsas.
Ashelfine Ditengah Tokoh Tokoh Perantau
“Ikatan Keluarga Sijunjung Se-Indonesia memberikan dukungan untuk perantau yang akan mengabdi bagi tanah kehaliran, dan waktunya pula perantau ikut serta dalam pembangunan nagari kabupaten Sijunjung, dengan jiwa kepemimpinan yang masih muda, insyallah rasa prihatin perantau dan masyarakat Sijunjung akan terobati." Ahmad Zulkani bersama Tim 7.

Cita-cita anak nagari kabupaten Sijunjung di perantauan khususnya Provinsi Riau, menginginkan daerahnya lebih maju dan sejahtera hingga saat ini masih belum dirasakan dan dinikmati secara maksimal oleh masyarakat luas dan hal inilah yang harus terus menjadi spirit bagi pemimpin yang terpilih untuk lima tahun ke depan. Harapan dan cita-cita untuk menikmati hidup yang lebih maju dan sejahtera ini sudah sangat dekat untuk dapat diraih. Minggu 1/3/2015 lalu, bertempat di CafĂ© and Resto Coffee Tjiek, tokoh-toko Keluarga Sijunjung Sakato berkumpul dan meremukkan cita-cita melangkah satu, tekad satu, dan bersama-sama untuk mendukung Ketua umum Ikatan Keluarga Sijunjung Sakato Ashelfine, SH MH yang akrab dipanggil Pepen memimpin Sijunjung mendatang. “Kami bersama-sama mendahulukan Pepen selangkah, meninggikan seranting dan sudah lama terasa bagi kami diperantauan untuk mengabdi bagi tanah darah kelahiran kami, berperan aktif untuk sebuah pertumbuhan” terang bendahara IKSS Provinsi Riau Buya Bagindo.

Karena itu, perhelatan Pilkada sekarang ini, harus bisa menjadi sarana muhasabah (refleksi) bersama agar tidak sekedar menjadi media memperebutkan jabatan/kekuasaan semata, tapi berfikir bagaimana agar ini ke-depan lebih maju, bertumbuh dan bisa memberi kesejahteraan pada masyarakatnya. Bupati dan Wakil Bupati terpilih nanti, mau tidak mau, harus bekerja cerdas, keras dan ikhlas agar membangun ranah lansek manih pertumbuh maju dan sejahtera. Kemiskinan ditekan, pengangguran diatasi, perekonomian meningkat, infrastrktur jalan dan jembatan serta pasar-pasar tradisional harus dibenahi dan sumber daya manusia terus berkembang di samping juga kesehatan dan keamanan masyarakat ditingkatkan.

Melihat dan merasakan bahwa kabupaten Sijunjung berapa dekade ini, sangat memilukan bukan malah semakin lama semakin dewasa. Realitanya, parameter tersebut telah didahului oleh kabupaten pemekaran, dulunya kabupaten tetangga tersebut masih satu rumpun dalam pemerintahan kabupaten Sijunjung. Namun, sejogyanya perjalanan ini, adalah menjadi bahan pertimbangan atau sarana untuk pembelajaran bagaimana memilih pemimpin dan memimpin Sijunjung semakin waktu semakin bertumbuh. “Dengan merasakan dan melihat itu kami bertanya-tanya tentang tanah kelahiran kami ranah lansek manih, yah, semakin tahun semakin memilukan, bak kabar petakut dari tahun ke tahun. Mungkin palsafah orang tua kita benar, “sayang anak di lacuikan, sayang kampuang ditinggakan” artinya rasa sayang dan peduli akan muncul ketika seorang meninggalkan kampung halaman, yang bisa melihat diri kita bukan dirikita sendiri tapi orang lain, yang merasakan maju mundurnya pertumbuhan nagari kabupaten Sijunjung, bukan yang berada di kampung halaman, sebaliknya orang yang meninggalkan kampung halaman yang lebih merasakan kepedulian tersebut” jelas Buya.

Sementara itu, waktu yang bersamaan bertempat di Coffee Tjiek tersebut, Ikatan Keluarga Sijunjung Sakato Provinsi Riau disela-sela acara, Pepen sekaligus menobatkan atau mensyahkan Ikatan Keluarga Kecamatan Sumpur Kudus (IKKS) bagian dari IKSS yang berkeanggotakan lebih kurang 300 orang di Provinsi Riau, bersama dengan agenda pertemuan tersebut, yang dihadiri oleh Anggota Dewan Kehormatan Ikatan Keluarga Minang Batam Ahmad zulkani, sekarang menjabat sebagai pimpinan umum Harian Berita Terkini dan mantan Pimpinan Umum Haluan, yang berasal dari kenagarian Unggan Kecamatan Sumpur Kudus. ditengah pembicaraan bagaimana IKSS kedepan, bersama dengan monyongsong Pilkada 2015, insyallah bulan Desember agenda ini diperuntukkan. Ikata Keluarga Sijunjung Se Indonesia memberikan dukungan untuk Ashelfine mengabdi bagi rakyat di tanah kelahiran ranah lansek manih “Ikatan Keluarga Sijunjung Se-Indonesia memberikan dukungan untuk perantau yang akan mengabdi bagi tanah kehaliran, dan waktunya pula perantau ikut serta dalam pembangunan nagari kabupaten Sijunjung, dengan jiwa kepemimpinan yang masih muda, insyallah rasa prihatin perantau dan masyarakat Sijunjung akan terobati. Sebab banyak pertimbangan dan pemikiran untuk menduduki pernyataan politik, bagaimana Sijunjung kedepan. Kami bersama kawan-kawan yang dinamakan tim 7 untuk Sijunjung, bersama Ikatan Keluarga Sijunjung Se-Indonsesia” ungkap Zulkani dengan jelas. 

Dengan bersatunya para perantauan dalam ikut serta membangun nagari, dengan menimbang bahwa kepemimpinan menjadi Bupati bukan seolah untuk sebuah jabatan, apalagi kekuasaan. Sebab, tanpa pemimpin yang punya visi ke depan, Sijunjung seolah hanya seonggok daerah yang cuma laris manis jadi bahan dagangan ketika hajat pemilukada akan dihelat. Selebihnya, soal bagaimana nasib masyarakatnya ke depan acap kali lupa dipikirkan. Inilah yang barangkali bisa menjadi bahan refleksi di tengah suhu panas dan kasuk-kusuk menjelang pemilukada kali ini. Jangan sampai sahabat-sahabat di seluruh masyarakat Sijunjung baik di perantauan maupun di kampong halaman. Jangan terlena dan hanyut dengan janji manis kampanye, money politik, tanpa melihat nasib daerah selanjutnya.

Inilah pertanyaan penting yang harus ditanyakan oeh masyarakat Sijunjung kepada Ashelfine SH, MH calon Buapti yang ingin Sijunjung bertumbuh dan bermartabat dalam kepemimpinannya Sijunjung mendatang, yakni, " Mengapa Anda mau menjadi Bupati Sijunjung?" Sesungguhnya, hanya pemimpin yang birokrat dan entrepreneur yang akan bisa menjawab pertanyaan nyeleneh tersebut dengan yakin sesuai dengan hati nurani rakyat” pungkas Zulkani dalam memberikan pernyataannya.
Suka ·

Kamis, 18 Desember 2014

FUTURE Memandang yang Molek, Teringat Silokek “Dari Keingintahuan Menjadi Persahabatan”



Wahana Silokek

Di tengah wara-wirinya pemberitaan media masa tentang sekelumit kabut asap yang menyelimuti sebagian wilayah Indonesia bagian barat, para traveler yang bertujuan kewilayah tersebut menjadi terganggu. Namun keberadaan itu, berbeda dengan Majda salah satu traveler dari negeri pecahan Cekoslovakia yaitu Ceko, yang sudah beberapa bulan bermukim dan berkeliling di Indonesia. Pemberitaan itu malah mencuatkan keingintahuannya tentang apa yang terjadi di daerah yang sedang dilanda kabut asap, keadaan tersebut disebabkan oleh oknum pembakaran hutan yang tidak bertanggunjawab. Sedikit pun tak menghambat, malah mencuatkan jiwa travelingnya untuk mengetahui rahasia di Nusantara ini.
Oleh sebab itu, untuk mengupas sebuah rahasia bagi traveler hal yang paling terpenting dalam dunia traveling adalah buku referensi tentang profil suatu tempat atau daerah, perlu membaca beberapa referensi buku tentang beberapa kota atau daerah yang menjadi target tujuan, inilah keyword seorang traveler sebelum berpergian. Dari beberapa referensi tersebut, ranah Minangkabaulah ujung tombak untuk menjawab keingintahuannya itu. Dari Jakarta langkah awal perjalanannya, Majda telah memutuskan menggunakan pesawat terbang, untungnya jadwal penerbangan Jakarta-Padang pun tersedia melalui informasi yang ia dapatkan dari biro perjalanan wisata yakni Andalas Education Tour Travel di website, menariknya bagi seorang traveler pasti mencari tiket pesawat yang tidak mengeluarkan gocek banyak alias mahal, di tambah, pastinya mencari lebih simple alias mudah didapatkan. Ya, AET tour travel sangat cocok dan solusi untuk para traveler. Jakarta-Padang memeliki jarak tempuh penerbangan hanya memakan 1 jam 40 meneit saja, ini adalah waktu yang tepat dalam perhitungannya “at the appropriate time”.
“Dear Passengers, welcome to Padang, we have landed at the international airport Minangkabau”sebuah  kalaimat yang dilontarkan dari seorang wanita rupawan yang memiliki tubuh indah dibaluti seragam batik keris, menambahkan kecantikan para pramugari di negeri ini. Langit yang sedikit berkabut menemani kedatangannya pada siang itu, Majda pun langsung disapa maatanya oleh gedung bandara yang unik, bentuk bergonjong bak tanduk kerbau yang bertulisan “Bandara Internasional Minangkabau”. Sepintas pengetahuannya yang telah membuka cakrawala dari buku referensi tentang ranah Minangkabau, baik dari kultur budaya yang sangat kental dengan nilai religiusnya, sebab suku Minangkabau wajib menganut agama Islam. Yah, itu bukan masalah bagi dirinya yang seorang atheis, sebab masyarakat Minangkabau sangat tinggi akan nilai sosial, dan yang lebih penting dari itu masyarakat yang mudah bersahabat terhadap orang seperti dirinya.
Saatnya mengesplorasi Minangkabau, satu jam setengah perjalanan dengan pesawat terbang mengudara, mengantarkan imajinya untuk mengupas tentang pesona sejuta cerita. Tanpa basa-basi, rasanya nak menikmati pesona alam yang ditawarkan bumi barat Sumatera. Dalam mempelajarai alamnya, ia perlu menguras banyak informasi “How To Know It”. Jika seorang bertualang untuk “berburu” maka siapkan sebuah peluru, itulah pribahasa yang selalu dipasang dalam ingatan para traveler-traveler handal. Peluru pertama adalah berjalan ala bagpacker, dengan memikul ransel berjalan keluar dari bandara, tanpa transportasi apapun, dengan menghirup langsung udaranya, informasi tersebut akan mudah untuk ditafsirkan, sebab hamparan informasi akan mudah didapatkan, jika kita tidak membatasi diri pada lingkungan dimana berada.
Majda dengan gontainya ia berjalan kaki, menikmati pudarnya terik matahari oleh kabut asap, namun semnagat tak sepudar matahari kala itu. Bersamaan dengan panjangnya ruas jalan bandara, mata tak henti memaling kian kemari, kiri dan kanan. Kira-kira satu kilo meter jarak yang ia tempuh meninggalkan gerbang bandara, dengan berjalan kaki sangat nyaman walau sedikit mengeluarkan tetesan keringat. Sementara itu diruas jalan bandara yang lurus memanjang sepanjang mata memandang, dikelilingi warung yang menjagal makanan dan minuman khas ranah Minang, beserta beberapa penginapan berkelas hotel mudah didapati ruas jalan tersebut. Ya, sangat gampang sekali mendapatkan penawar lelah untuk rehat beberapa hari di ibukota khas Seribu Rumah Gadanag ini.
Sejogyanya, pagi kali ini Majda membuka tabir sebuah eksotisnya mutiara dalam lumpur di ranah Minangkabau yang tersuruk, bahkan belum terjamah alamnya beserta kelestarian yang masih terjaga denga baik. Tinjau punya tinjau dideretan informasi yang beredar di media sosial Majda menemukan seorang sohib yang memamerkan bagian yang tersuruk bak mutiara dalam lumpur,  hingga satu media pun belum pernah memfosilkan dalam sebuah tulisan “future”. Nah, sohib Rahman lah yang menjajalkan informasi tersebut tentang wahana yang tersuruk, samapai perjumpaan mereka untuk menggali keeksotisan bagian daerah yang tersuruk di bagian selatan Sumatera Barat yaitu kabupaten Sijunjung yang akrab dengan buah lansek atau buah buahan sejenin buah Duku, sebab hanya Sijunjung yang banyak menghasilkan buah tersebut. Maka dengan itu pula masyarakat menamakan kabupaten ini dengan sebutan ranah Lansek Manih, dengan jarak tempuh perjalanan lebih kurang 3 jam lebih atau sejauh lebih kurang 90km.
Memang Secara topografi, kabupaten Sijunjung merupakan rangkaian Bukit Barisan yang memanjang dari arah barat laut ke tenggara, sehingga kabupaten ini memiliki ketinggian yang sangat bervariasi, yaitu antara 120 meter sampai 930 meter di atas permukaan laut. Kecamatan di kabupaten ini umumnya memiliki topografi yang curam dengan kemiringan antara 15–40%, yaitu kecamatan Tanjung Gadang, kecamatan Sijunjung, kecamatan Sumpur Kudus, dan kecamatan Lubuk Tarok. Seperti daerah lainnya di Sumatera Barat, kabupaten ini mempunyai iklim tropis dengan kisaran suhu minimun 21 °C dan maksimum 37 °C. Sedangkan tingkat curah hujan kabupaten Sijunjung mencapai rata-rata 13,61 mm per hari.
            Keesokan harinya pagi pagi buta, Rahman bersama Majda dengan mengendarai sepeda motor metik dari kota Padang melewati Pabrik Semen Padang yang merupakan pabrik semen tertua sejak zaman belanda dulu. Perjalanan yang ditempuh sangat mengasyikan dikarenakan sepanjang perjalanan mata di bumbui oleh panorama alam Sumatera Barat luar biasa indahnya dengan hamparan hutan tropis dan aneka kuliner setiap daerah yang dilewati. Apalagi ditengah-tengah perjalanan mereka ditemani oleh mahasiswi yang berperanakan anak nagari Kayu Aro dengan paras molek berpenampilan sopan. Sebagian pendapat tentang gadis minang memang unik tapi mempesona alias molek, kata Majda “so unique, the girl drive motor, and she is beautiful".
            Sementara mereka menikmati pesona alam ditengah perjalanan, Majda asyik memainkan lensa kameranya untuk mengabadikan hijaunya hamparan sawah sawah yang berjenjang dibukit seperti gugusan candi candi tanah jawa. Setibanya mereka di ranah Lansek Manih, langsung disambut dengan hangatnya waktu siang, rehat sejenak untuk pelepas dahaga di Waroeng Rakyat yang hampir dekat dengan tujuan mereka, kira-kira satu atau dua kilo meter lagi, yang bertempat di kelok beracun kota Muaro Sijunjung.
            “Hi dude,, where are you going?, Sungguh kehormatan bagi pemilik warung khususnya, umumnya bagi masyarakat Sijunjung bisa datangi para touris asing atau lokal”. Sambil tersenyum dan bersahabat pemilik warung bertanya pada Majda.
Rahman menjelaskan niat dan tujuan mereka datang ke kota itu, pemilik warung pun dengan sangat bersemangat menjelaskan, “how to get it” bagaimana mendapatkan lokasi yang mereka tuju dengan mudah. Sebab, Silokek merupakan salah satu daerah wisata potensial yang berada di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Sebuah kawasan wisata alam yang terdapat di sepanjang kenagarian Muaro, Silokek dan Durian Gadang. Di sepanjang kawasan ini wisatawan dapat menikmati keindahan alam seperti; suasana pantai pasir putih yang memukau, keindahan panorama ngarai batu berjajar yang menawan, wisata gua (ngalau), taman anggrek yang mempesona, panjat tebing, arung jeram, air terjun pelukahan, pemandian air panas dan wisata budaya, seperti kereta api lokomotif uap peninggalan Jepang. Silokek mempunyai rahasia keindahan alam yang sangat eksotis dan mampu menarik perhatian para wisatawan lokal maupun mancanegara.
Perjalan menuju wahana wisata Silokek dengan riang gembira akan dimulai, Wanda sang pemilik warung dengan semangat pula ingin ikut mendampingi mereka berdua, asyiknya mereka mendapatkan tumpangan gratis dengan kenderaannya, Perjalanan mereka dimulai dengan melewati jembatan Ombilin dengan sepanjang +100 m, melewati jalanan kecil yang menurun mendaki dan berliku dibalut oleh hutan dan perbukitan batu terjal menelusuri ke hilir Daerah Aliran Sungai Batang Kuantan nan indah, jalur ini merupakan bekas Jalan kereta api yang dibuat semasa penjajahan jepang dengan sistem kerja paksa atau lebih dikenal denga romusha. Aliran sungai yang deras sangat bagus pernah diadakan event nasional, untuk olahraga petualang Arum Jeram,Jarak dari kota sejauh 4 KM atau 15 Menit perjalanan.
Nah, awalan mereka dijumpai oleh Ngalau Cigak, Disini pengunjung dapat menikmati aliran sungai bawah tanah dan keindahan stalaktit. disekitar ngalau anda akan disambut oleh cigak-cigak jinak (kera – kera yang jinak) yang siap bersenda gurau dengan pengunjung.
Kemudian, setelah usai senda gurau dengan cigak cigak jinak mereka disuguhi oleh hamparan pasir putih di tepi sungai batang palangki dan ombilin dengan dikelilingi oleh tinggi menjulang bukit bukit terjal berbatu sepanjang perjalanan menuju air terjun Palukahan. Biasanya pasir putih kita temukan di tepi pantai saja. Ternyata juga kita temukan pasir putih di tepi batang kuantan nan elok dan indah. Biasanya anak nagari Silokek, setiap tahunnya mengadakan turnamen Volley pantai, layaknya Volley pantai di pantai Kuta Bali. Selanjutnya, untuk menuju air terjun ini, mereka harus berjalan kaki sejauh 1 Km melalui perkebunan karet masyarakat sambil mendengarkan kicauan burung yang merdu. Di kawasan ini terdapat 2 buah lokasi air terjun yang akan mereka nikmati, masing-masing setinggi 45m dan 75 m. Wahana air terjun itu, cukup untuk menyejukan dan mengobati petualangan wisata Silokek dengan hawa panas kala siang di ranah Lansek Manih.
Sementara itu, suguhan demi suguhan alam mereka nikmati, hanya beberapa tempat saja Majda mengeluarkan stetment yang membuat Wanda terkejut, dengan sebuah kalimat sederhana, tentang wahana wisata Silokek, Majda menyimpulkan “ Silokek Is Virgin Dude…”. Tak ada argument yang patut dikomentari, hanya kebanggaan bagi mereka penduduk asli masyarakat Minangkabau, terlebih pentingnya lagi, sebagai anak nagari menjaga dan melestarikan keaslian kekayaan alam di ranah Minangkabau.
Tidak terlalu jauh dari air terjun Palukahan tersebut, terdapat sebuah lokomotif tua atau kereta api lokomotif dengan bahan bakar uap, dan ini juga bukti sejarah peninggalan zaman penjajahan jepang yang terkenal juga dengan peristiwa logas. Wanda memberikan informasi tentang adanya nilai sejarah di wahana Silokek, informasi tersebut sangat mennyambung dengan Majda yang berdisiplin ilmu telah mendapatkan title sejarawan di daerahnya. Dengan sangat penasaran, mereka mengunjungi areal lokomotif tersebut untuk meraih rekaman sejarah tersebut.
Akhirnya, tak bisa disangkal lagi jika Sijunjung terkenal dengan alamnya yang memukau dan mempesona, begitu banyak pesona wisata yang bisa menjadi komoditi wisatawan domestik dan luar negeri. Salah satu objek wisata yang menawan dan layak dikunjungi yakni Wahana Wisata Silokek yang terletak di Kecamatan Sijunjung. Majda, Rahman dan Wanda pun menjadi saling berkalibrasi tentang kekayaan alam Silokek, pasalnya, mereka berasal dari keingintahuan lahirlah nilai persahabatan sampai sekarang masih mereka jaga. Alhasil wahana wisata tersebut hampir ramai didatangi touris asing atau lokal atas keaslian dan kemolekan alamnya. By F.R.A