Minggu, 16 Januari 2022

Fadhlur Rahman Ahsas Kawal Gus Yahya




Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menggelar Muktamar ke 34 di Provinsi Lampung 22-23 Desember 2021. Rasanya tak berlebihan pula jika banyak yang menambatkan harapan bahwa muktamar hasilnya membawa perubahan dan kemaslahatan umat. Salah satunya MWC NU Koto VII, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat.

Yose Rizal Zaltra ketua Tanfidziyah MWC NU Koto VII menyebutkan terlepas bagaimana hasil Muktamar NU ke-34 nanti, seluruh umat dan masyarakat Indonesia tentu berharap Muktamar kali ini menghasilkan keputusan yang tepat untuk meneguhkan semangat Keislaman dan Keindonesiaan.

Iklan – Artikel dilanjutkan di bawah

"Semoga Muktamar menghasilkan keputusan yang tepat guna mengawal spirit Islam Rahmatan Lil Alamin, sebagai pilar bangsa untuk mewujudkan perdamaian dunia. Tentu dengan terus melakukan tradisi-tradisi keagamaan yang selama ini sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat itu sendiri," ujarnya, Rabu (22/12/2021).

Lanjut, ia mengaku bangga karena seorang perwakilan MWC NU Koto VII menjadi pengawal salah satu kandidat.

"Kami bangga karena Buya Fadhlur Rahman Ahsas perwakilan MWCNU Koto VII Kabupaten Sijunjung, Sumatra Barat terpilih mendampingi salah seorang kandidat PBNU, kami berdo'a agar semua berjalan dengan hikmat, dan jadilah penyejuk," harapnya.

Iklan – Artikel dilanjutkan di bawah
MWC NU Koto VII.

Senada, Buya Jisman Deri selaku Rois Suriyah berharap forum permusyawaratan tertinggi NU itu terlaksana dengan baik dan menghasilkan keputusan yang terbaik untuk NU, bangsa dan negara.

"Semoga momentum Muktamar NU ke 34 ini menghasilkan keputusan terbaik bagi Jamiyah kita Nahdhatul Ulama secara khusus, bagi umat secara umum, dan tentu saja bagi bangsa dan negara. Mudah-mudahan mampu membawa NU dan bangsa ini lebih baik lagi," harapnya.

Senin, 08 Juli 2019

Alzam Deri : FRA Sosok Yang Pantas Menduduki Kursi Pimpinan KNPI Sijunjung



Sijunjung---Alzam Deri, Sekretaris Majelis Pemuda Indonesia KNPI Kabupaten Sijunjung yang pernah menjabat dua periode Ketua KPU Kabupaten Sijunjung memaparkan bahwa FRA adalah seorang organisator ulung,  yang Sudah membuktikan keberhasilannya membesarkan beberapa organisasi disijunjung dan sumbar, oleh sebab itu FRA adalah sosok yang tepat untuk menahkodai KNPI Sijunjung kedepan

"Saya sangat tau tentang sosok seorang Fadhlur yang dikenal sebutan FRA, yang sangat teruji membesarkan organisasi baik tingkat kabupaten Sijunjung maupun Sumatera Barat. Hal itu terbukti bahwa beberapa organisasi NU besar sejak dipimpin dan digerakkan oleh tangannya" sebut Alzam Deri pada Senin (8/7) saat dimintai keterangan melalui telpon selulernya

Mantan Ketua KPU ini menambahkan bahwa tantangan pemuda akan semakin kuat dan besar, seiring semakin berkembangnya zaman, mulai dari pergaulan negatif, narkoba, serta lainnya, maka dengan memperkuat organisasi kepemudaan di tengah masyarakat, terutama untuk kaula muda, dia sangat yakin semua tantangan tersebut mampu dijawab dan sangat berpengaruh jika KNPI berada di tangan FRA agar KNPI mampu menjawab tantangan tersebut, jika kepengurusan dipimpin oleh orang yang teruji serta terbaik bagi kawula muda Sijunjung.

" Adinda FRA telah membuktikan geliat  membangun generasi yang mengarahkan kepada  kebaikan dan juga bisa mempersiapkan untuk menghadapi masa yang akan datang. FRA di ujung nagari telah memberikan kecerdasan dengan program literasinya yakni Pustaka Keliling dan pernah menjadi tolak ukur bagi pemda dalam membawa marwah kabupaten ke kanca provinsi. Masih banyak karyanya demi kemajuan pemuda di Kabupaten Sijunjung”sebut Alzam Deri.

Disamping sebagai organisator ulung, Alzam menambahkan, bahwa FRA juga piawai berdialegtika dan menulis,  sosok FRA adalah generasi muda harapan kita kedepan dan patut dijadikan contoh dan menahkodai KNPI sijunjung kedepan dalam era globalisasi ini.


Menurutnya, geliat ber-KNPI adalah salah satu garda terdepan untuk pembangunan Sijunjung, apalagi perebutan kursi nomor satu KNPI ini mempengaruhi perebutan kursi hangat kepala daerah. Yah, kenapa tidak? Sejogjanya KNPI adalah wadah pemersatu organisasi kepemudaan yang ada di Kabupaten Sijunjung, yakni dari kecamatan sampai pada organisasi masyarakat yang bermuara kepada pemuda. Nah, tak salah bahwa kursi nomor satu KNPI bisa didefenisikan "KNPI 1 Sijunjung adalah sebuah kunci Kemenangan Pilkada Merebut BA 1 K".

"Geliat ber-KNPI sangat berpengaruh dalam kontestasi Pilkada di Kabupaten Sijunjung, sebab kursi nomor satu KNPI akan memimpin banyak OKP (Organisasi Kepemudaan) dan PK (Pemuda Kecamatan) yang ada di Kabupaten Sijunjung. Yah tak salah kalau merebut kursi KNPI ini salah satu kunci juga merebut BA 1 K" paparnya.

Sementara itu, mendengar akan majunya FRA di Musda KNPI Sijunjung, mendapatkan perhatian khusus dari belbagai tokoh kepemudaan di Sumatera Barat diantaranya mendapatkan dukungan dari mantan Ketua DPD KNPI Kota Padang Nisfan Jumadil, SH, bahwa Musda KNPI Sijunjung sebuah momentum kemana arah pemuda mendatang. Sesungguhnya maju mundurnya suatu daerah karena pemudanya. Mendengar FRA salah satu kandidat yang paling tepat dengan falsafah Minagkabau yakni patuik jo mungkin dalam memimpin kepemudaan Sijunjung kedepannya.

"Saya sangat mendukung Bung FRA maju dalam merebut Kursi nomor satu DPD KNPI Sijunjung 2019. Sebab kursi nomor satu akan mempengaruhi geliat pemuda 3 tahun kedepan. Apalagi pembangunan bukan saja kepada infrastrukturnya saja, tapi bagaimana pemuda sebab maju mundurnya pembangunan tergantung mentalitas yang lahir dari pemudanya" ulasnya

Dengan demikian, Nisfan yang juga sumando urang Sijunjung meingatkan kepada pemuda untuk mensukseskan Musda KNPI Sijunjung, untuk memilih orang yang pantas. Yah, tak salah kalau Nifwan sebagai sumando ninik mamak urang Sijunjung selalu memberikan dorongan dan dukungan untuk pembangunan Sijunjung terutama dalam pemangunan generasi mudanya

"Saya selaku urang sumando Sijunjung, selalu memberikan yang terbaik untuk pembangunan terutama pemudanya. Keniscayaan saya yang lahir dari mentalitas pemuda akan selalu menjadi garda terdepan untuk para kader pemuda dalam mewarnai pembangunan kabupaten Sijunjung. Mari sukseskan Musda DPD KNPI Sijunjung dengan menjadikan orang yang tepat untuk mempin kepemudaan di Ranah Lansek Manih" Pungkasnya.

Selasa, 25 Juni 2019

Fadhlur Rahman Ahsas Antara NU dan Keturunan Ke 3 Syech Abdurrahman



Fadhlur Rahman Ahsas adalah seorang pria yang dilahirkan di Nagari Palangki Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung pada 8 November 1986 dari rahim seorang ibu bernama Irhamni Urif dengan didampingi oleh Bapak yang bernama Afdaluddin. Kini pria itu sudah menjadi seorang penulis di beberapa media lokal dan juga nasional

Fadhlur Rahman Ahsas yang berdarahkan Minangkabau bersukukan Malayu bekerja sebagai Jurnalis di Sumatera Barat. Selain itu, ia juga merupakan seorang aktivis dan penggagas literasi di tanah darah kelahiranya Kabupaten Sijunjung.

Berbekal ilmu pengetahuan yang ia miliki dan beberapa buku bacaan yang ia koleksi menjadi alat bantu untuk bahan mengajarkan literasi tersebut. Pria berusia 33 tahun ini memiliki satu orang anak dari pernikahannya dengan seorang aktivis perempuan Mutia Rahmi telah dikaruniai Putra bernama Aruna Dipta Ahsas yang masih berumur 3 tahun.

Dengan kehidupan yang amat sederhana, sebagai jurnalis lokal Sumatera Barat yang tergolong kontroversi dengan tulisannya yang selalu menjaga kode etik jurnalistik dan mengutamakan profeaionalitas. Ia mengarungi bahtera dengan keluarga kecilnya di desa atau nagari yang tergolong jauh dari perkotaan kabupaten Sijunjung nama desa itu memaknai letak geografisnya yakni Nagari Bukit Bual.

Untuk menompang dalam menghidupi keluarganya dan juga cita-citanya terhadap pembangunan bangsa dengan bergiat sebagai penulis dan juga aktivis. Ihwal itu dengan sangat terpaksa untuk mencoba bertani dan juga penyadap getah karet guna membantu penghidupan keluarganya. Sejujurnya dari kecil hingga dewasa ia tak pernah akan mengenali dan memahami hidup bertani ataupun sebagai penyadap, sebab ia bukan terlahir dari keluarga petani. Karena kedua orang tuanya seorang abdi negara, dengan kesibukan orang tuanya sebagai abdi negara, ia tak sempat mengajari untuk bertani dan memancah sawah.

Dia NU Keturunan Ke 3 Syech Abdurahman Ulama Tarekat Nahsabandi

Fadhlur Rahman Ahsas yang bergelar Imam Pangulu dari kaumnya suku Malayu Nagari Palangki memang tergolong kaum bajini alias keluarga Datuak atau urang tuo di kenagarian itu, kalau merunut matriakad ia termasuk pewaris Datuak Panghulu Sutan yakni salah satu pemimpin dari Suku Malayu Nagari Palangki, sementara itu merunut patriakad bapaknya salah satu ninikmamak dari Suku Chaniago dengan jabatan Monti. Sedangkan merunut para pendahulu baik dari keturunan Ibu dan Bapak ia berketurunan dari tokoh peneyebar Islam di ranah Minangkabau dan juga tokoh organisasi Islam di Sumateta Barat yakni Persatuan Tarbiyah Islamiyah

Fadhlur nama singkatnya, hari ini ia berkhidmad di oraganisasi besar Nahdlatul Ulama, hingga memimpin beberapa badan otonom di tingkat Kabupaten Sijunjung. Memang melihat dari pendidikan ia pernah mengeyam ilmu agama di Pondok Pesantren, diiantaranya Darussalam Gontor Ponorogo, Darul Muttakin Rogo Jampi Banyuwangi dan Ponpes Buya Salam Darussalam Dharmasraya.

Secara militansi dan loyalitasnya sebagai organisatoris dengan berpegang teguh ideologi Ahlussunah Waljamaah, mungkin banyak yang mempertanyakannya kenapa ia berkhidmad di oraganisasi Islam terbesar di Indonesia yang memeliki ideologi yang jelas itu.

Walaupun secara biologis orang tua laki-lakinya berkhidmad di oraganisasi Muhammadiyah, dan pernah memimpin cabang oragnisasi tersebut. Nah sedikit bersejarah, bahwa Fadhlur Rahaman Ahsas telah mengimplementasi ilmunya dengan asas ber- pemikiran bebas yang tertanam dengan Motto Pondok Gontor yakni asas Demokrasi, serta dengan penguatan dasar manhajul fikri yaitu "Kun Ibna Zamanika" jadilah kamu dinamasa mu.

Melihat perkembangan zaman, oraganisasi NU sudah tepat dengan perkembangan zaman yang sekarang menjadi tolak ukurnya dalam berkhidmad baik demi agama bangsa dan negara. Apalagi merunut dari para pendahulu, kakek atau orang tua dari ibunya adalah seorang pendidik dari dua masa, dan juga pemipin baik dalam oragnisasi Perti di Sumatera Barat tahun 1965 dan juga Wali Nagari serta Dewan DPRD Kabupaten Sawahlunto Sijunjung tahun 1975. Kakeknya bernama H Bustami Urif Datuak Pangulu Besar yang terkenal dengan ulama tarekat Nahsabandi, kakeknya tersebut memiliki orang tua bernama Syech Abdurrahman yang memiliki istri Hj. Zainab. Tak hayal semasa itu kakek kukuhnya memiliki banyak istri, namun sosok Hj Zainablah yang menjadi ibu kakeknya atau juga bisa disebut olehnya nenek kukuh, sebab nenek kukuh dari keluarga saudagar dan bajini sebab ayahnya seorang Ongku Paloh (Kepala Nagari/Wali Nagari)

H.Bustami Urif Dt Panghulu Besar anak 3 dari 4 bersaudara, diantaranya Siti Romlah, Mokawi Sutan Pangeran, dan Maimunah. Salah seorang saudaranya lahir di kota Mekkah yang diberi nama Mokawi dengan gelar Sutan Pangeran. Menilik kenapa seorang kakaknya Mokawi lahir di Mekah saat itu Syech Abdurahman dengan Hj Zainab berpergian menunaikan ibadah haji yang kesekian kalinya, alasannya tetap dalam beribadah serta belajar dengan sang guru Syekh Ahmad Khatib binSyekh Abdul Latif Khatib

Faktanya, kitab kitab lama yang terkenal dengan sebutan kitab kuning dan juga kitab tafsir yang diantaranya jalalein masih terjejer dirak-rak buku rumah Fadhlur Rahman Ahsas, ihwal itu pula dengan bermodalkan ilmu pondok pesantren serta buku warisan kakek kukuhnya ia bisa mendapatkan prestasi juara 1 Tafsir Alquran Bahasa Arab Tk Kabupaten Sijunjung pada Musabaqoh Tilawatil Quran, hinga berkompetisi membawa daerahnya ke Tingkat Provinsi pada tahun 2005, saat umurnya masih 19 tahun. Yah dibilang masih setingkat Aliyah.

Sementara itu, memang disayangkan di nagari Palangki banyak generasi yang tidak peduli dengan pendahulu, buktinya makam Syech Abdurrahman telah musnah, datar dengan tanah dan hingga kini tempat itu, menjadi tempat orang menambang emas. Katanya makam tersebut berada di Surau Godang Lobuah Nagari Palangki, yang disemayamkan pada tahun 1920 masehi.

Dengan demikian, meihat perkembangan zaman, apalagi di kenagariannya, bisa ditafsirkan hampir tidak peduli dengan mozaik sejarah, hingga pembuktian para pendahulu ulama yang mengislamkan negeri ini telah pudur, hanya meninggalkan satu makam yakni Syech Abdurrauf, yaitu salah satu pendahulunya dari soko Ayahnya keturunan ke 4. Maka melihat keterpurukan itu, Fadhlur Rahman Ahsas dengan tulisanya tetap menjadikan pelajaran serta peringatan, bahwa sejarah adalah mutu manikam para pendahulu harus tetap menyala pada generasi ke gerasi apalagi ini adalah tiang dari keilmuan serta semangat pembangunan peradaban (*)

Minggu, 19 November 2017

POLITIK IDENTITAS CINTA



Pebriyaldi, SH.I, MH
“Bagi perjuangan kita, hanya ada dua jalan, Musuh yang melewati bangkai kita, atau kita yang melewati bangkai mereka” -Adolf Hitler-. 107 tahun yang silam seorang revolusioner Jerman Adolf Hitler mengutarakan perjuangannya demi sebuah identitas politik yang tumbuh dari kegelisahan dan kepahitan hidup, pada akhirnya melahirkan benih-benih keyakinan politik, namun ungkapan seorang Adolf Hitler diatas jika ditransformasikan pada zaman sekarang akan sedikit menggelitik identitas cinta politik atau politik identitas cinta anak zaman now.

Dialektika lokal zaman now mengigatkan akan sebuah perjuangan pada identitas politik seorang Karl Marx pada perjuangan kaum buruh, Tan Malaka disaat mendesak Soekarno untuk merdeka 100% bahkan Bung Hatta berani menolak keinginan Soekarno dan berhenti mendampinginya sebagai wakil presiden demi sebuah identitas politik, begitu juga dengan banyak tokoh-tokoh terkemuka lainnya.

Identitas politik cinta terdiri dari rangkaian tiga kata yaitu identitas adalah refleksi diri sendiri dan persepsi orang lain, Politik adalah seni untuk meraih sesuatu dan Cinta adalah emosi dari kasih sayang yang kuat. Jika digabungkan kata-kata tersebut akan memberikan arti refleksi pada setiap individu dengan memainkan sebuah seni diri untuk mencapai sesuatu yang diiringi dengan emosi kasih sayang yang kuat, intinya bahwa kekuatan ideologi seseorang individu akan menggambarkan sebuah identitas pribadi yang tidak akan terpepengaruh oleh apapun dan berani memainkan banyak nada demi tujuan yang dicita-citakan.

Mencari sebuah identitas politik diawali dengan refresentatif identitas diri yang dibangun dari sebuah perjalanan hidup dan khazanah ilmu pengetahuan, kekuatan identitas diri akan menjadi pondasi kuat dari sebuah identitas politik, hal ini yang menjadi kekuatan untuk sebuah yang dicita-citakan. Proses sebuah cita-cita tidak akan mulus untuk dijalani karena begitu banyak rintangan dan tantangan namun biasanya pada sebuah proses peradapan dari masa kemasa sebuah rintangan dan tantangan tidak akan meruntuhkan sebuah perjuangan dan benteng pertahanan.

Musuh besar proses sebuah cita-cita adalah dari dalam diri individu seseorang, sangat banyak contoh pristiwa dan perjuangan yang hancur karena sebuah identitas tidak terpertahankan dengan baik seperti pristiwa perang uhud yang pada saat itu kemenangan sudah ditangan umat Islam tetapi dengan tergiur rampasan perang pada akhirnya umat Islam dipukul mundur hingga wajah Rasulullah terluka dan gerahamnya patah, begitu juga runtuhnya peradapan besar Turki Usmani.

Sebagai penutup tulisan singkat ini untuk sebuah cita-cita yang diperjuangkan dengan identitas politik cinta saya teringat dengan pesan Sutan Sahrir “Hidup Kalau Tidak Diperjuangkan Tidak Akan Dimenangkan”.

Wallahu’alam.


Sabtu, 18 November 2017

Kandidat Doktor Muda Dari Minangkabau Dalam Mengupas Tuntas Isu Teroris


[Aidil Aulya]

Dalam beberapa hari belakangan ini warga Sumatera Barat digemparkan dengan dua peristiwa mengejutkan. Dua peristiwa tersebut yaitu pembakaran Polres Dharmasraya dan juga pemberitaan headline koran Haluan (15 November 2017) yang menuliskan tentang terjadinya “pengamanan” belasan pendakwah di Kab. Pesisir Selatan. Pengamanan yang dilakukan oleh kepolisian patut diduga berkaitan dengan peristiwa pembakaran kantor Polres Dharmasraya.
Dugaan ini dikuatkan dengan alasan pengamanan yang dilakukan pihak kepolisian karena beberapa orang pendakwah tersebut membawa busur panah. Dalam pemberitaan sebelumnya dikabarkan bahwa pelaku pembakaran di Dharmasraya juga memakai busur panah dalam menjalankan aksinya. Adanya temuan busur panah inilah kira-kira yang menjadi pemantik tindakan agresif kepolisian untuk berinisiatif mengamankan belasan pendakwah tersebut. Bagi saya, fenomena ini merupakan bentuk kegagalan dalam membaca fenomena lokal masyarakat. Identitas kultural dan identitas keyakinan ataupun keagamaan tidak tunggal, sehingga analisisnya juga tidak mungkin tunggal. Wajah majemuk ekspresi keberagamaan masyarakat harus dipahami dengan baik agar tidak muncul kecurigaan eksesif terhadap identitas kelompok masyarakat dalam mengekspresikan pemahaman agamanya.
—————————————————————————————————————————————–
Stereotip dan Stigmatisasi Identitas
Pengamanan yang dilakukan oleh kepolisian bisa dibaca sebagai langkah preventif. Tindakan preventif polisi sebagai penjaga kantibmas memang sudah seharusnya dilakukan, namun perlu adanya catatan kritis. Tindakan-tindakan agresif tersebut harus didasarkan pada pemahaman yang benar dan tidak terjebak pada simplifikasi pengambilan kesimpulan terhadap suatu peristiwa.
Bentuk simplifikasi yang dilakukan oleh kepolisian adalah menjadikan kalimat “takbir” sebagai bukti pelaku pembakaran markas Polres Dharmasraya sebagai teroris. Hal itu diungkapkan oleh Kapolres Dharmasraya ketika diwawancara dalam program Kabar Petang oleh salah satu TV swasta nasional. Hal ini tidak hanya akibat negatif dari simplifikasi kesimpulan semata, namun bisa ditarik lebih jauh sebagai kegagalan pemahaman dalam mendudukan persoalan terorisme.
Menjadikan kalimat “takbir” sebagai bukti bahwa pelaku adalah seorang teroris merupakan kesalahan fatal. Kalimat “takbir” merupakan ungkapan sakral yang tidak patut disandingkan dengan indikasi terorisme. Kita tidak berusaha menampik beberapa peristiwa teror dan kekerasan yang terjadi di beberapa negara, termasuk di Indonesia, terkadang membawa simbol dan dalih-dalih agama. Akan tetapi, tidak boleh menghubungkan apalagi melakukan generalisasi terhadap identitas keagamaan seseorang dengan tindakan kejahatan. Identitas keagamaan yang dilekatkan sebagai bukti terorisme merupakan bentuk stereotip identitas. Penilaian stereotip yang dimaksudkan adalah konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat.
Pernyataan dan pemahaman tersebut sangat berbahaya. Bisa-bisa orang dicurigai, dimata-matai, dipermasalahkan, bahkan “diamankan” karena identitasnya sudah terstigmatisasi secara negatif. Jenggot, jubah, celana cingkrang, cadar, dan sorban, dicitrakan dengan masyarakat yang perlu diawasi bahkan patut diduga sebagai ekstrimis atau radikalis yang diidentikkan dengan teroris. Jangankan fashion yang bersifat profan, bahkan pengucap kalimat-kalimat sakral keagamaan pun bisa distigmatisasi sebagai pelaku ekstrimis, radikalis, ataupun teroris. Kita bisa berbeda pendapat soal ekspresi pemahaman keagamaan yang terlihat dari penampilan tersebut, namun seharusnya negara demokrasi menjamin kebebasan setiap warga negara selama tidak menyimpang. Tidak ada larangan untuk berpenampilan ala Arab sebagaimana tidak ada larangan juga berpenampilan ala Eropa. Hal terpenting bukan terletak pada penampilan luarnya, namun substansi gerakannya. Kenapa harus curiga dengan perbedaan? Pondasi negara yang memiliki kultur majemuk seharusnya menghormati keragaman dan perbedaan. Kecurigaan terhadap anasir ekspresi kebudayaan yang berbeda harus dihilangkan agar tidak terjebak pada subjektifitas pemahaman dan akhirnya mengundang polemik.
Kesimpulan subjektif merupakan bentuk lain sikap terburu-buru dalam menarik kesimpulan. Saya khawatir, pemahaman dan tindakan stereotip terhadap identitas keagamaan merupakan salah satu bentuk Islamic phobia (ketakutan terhadap Islam), sebagaimana yang lazim terucap di dunia Barat. Bisa jadi ini sebagai doktrinasi neo Islamic phobia (ketakutan gaya baru terhadap Islam). Jangan sampai peristiwa ini menjadi bola liar dan berkembang menjadi isu diskriminasi SARA. Kesimpulan tersebut bisa berbuntut panjang dan jika terus dilakukan maka masyarakat bisa menjadi berbalik tidak percaya terhadap profesionalitas kepolisian dalam menyelesaikan akar permasalahan terorisme di Indonesia.
Bisa dipahami, labelisasi dengan menggunakan identitas keagamaan dalam membaca kasus terorisme merupakan hal yang lumrah terjadi. Hal tersebut merupakan pengaruh dari kajian-kajian dan diskursus dunia akademis, terutama di Barat, yang menyandingkan antara terorisme dengan agama, atau, lebih spesifik antara Islam dan terorisme. Diskursus yang seolah-olah akademis itu punya agenda besar untuk memberikan pencitraan negatif. Narasi terorisme diarahkan pada pemahaman seolah-olah Islam merupakan agama yang memproduksi pelaku terorisme terbanyak. Seharusnya narasi-narasi seperti ini tidak dilanjutkan dan ditelan saja bulat-bulat tanpa filter. Narasi yang seolah-olah akademis dari Barat tersebut lebih tepat disebut pseudoscience (keilmuan semu). Harus dipahami bahwa setiap kata punya makna ideologis dan agenda tersembunyi dibelakangnya. Penyandingan kata terorisme dan Islam di Barat dimaksudkan untuk menimbulkan kebencian masyarakat Barat terhadap Islam. Rasis, bukan?
Fenomena penyerapan kajian-kajian distortif Barat terhadap Islam dalam konsep seorang sosiolog Malaysia, Syed Hussein Alatas, disebut sebagai the captive mind (pikiran terbelenggu). Konsep captive mind sangat terkait dengan hegemoni dominasi keilmuan Barat terhadap negara berkembang dalam ilmu sosial dan humaniora. Salah satu karakteristik captive mind adalah ketidakmampuan melakukan analisis sendiri dalam memetakan permasalahan. Penentuan metode dan analisis sangat didominasi oleh kajian-kajian Barat. Akibatnya, terjadinya kelatahan dan kesalahan dalam penarikan kesimpulan, dalam hal ini yaitu kasus teror. Generalisasi stigma negatif terhadap Islam yang terjadi di Barat diseret menjadi alat baca utama dalam menelaah gerakan-gerakan teror yang terjadi di Indonesia.
Polisi sebagai representasi negara tidak boleh gegabah dan terburu-buru dalam memberikan konklusi. Peristiwa pidana harus dianalisis secara komprehensif dan mendalam tanpa mengabaikan kemungkinan-kemungkinan lain. Toh, tidak ada penafsiran tunggal dalam penyelidikan peristiwa pidana. Masih banyak kemungkinan-kemungkinan lain ataupun anasir-anasir lain yang bisa saja menjadi sebab. Kalaupun pada akhirnya nanti kasus ini terbukti sebagai tindakan terorisme, maka tidak perlu memberikan pernyataan-pernyataan kontroversial yang berpotensi diskriminatif terhadap suatu agama. Tidak ada satupun agama yang mengajarkan kekerasan. Orientasi objektif dari semua agama adalah menciptakan kedamaian dan kemaslahatan. Negara dan perangkatnya harus memahami konsep agama dan beragama secara utuh agar tidak bias dan destruktif dalam menarik kesimpulan.
—————————————————————————————————————————————–
Polisemi Kata Radikal
Faktor lain dari gagalnya analisis terhadap pelbagai kasus terorisme yang terjadi adalah kesalahan dalam penempatan kata radikal. Kata radikal sudah menjadi kata ambigu yang maknanya bisa ditarik kemana-mana. Bahkan, dijadikan alat propaganda untuk menyerang identitas kelompok yang berbeda paham dengan identitas kelompoknya. Saling tuding menggunakan kata radikal berujung pada perdebatan kontra produktif.
Dalam KBBI, kata radikal diartikan dalam tiga hal; pertama, secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip). Kedua, amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan). Tiga, maju dalam berpikir dan bertindak.
Dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah polisemi. Polisemi adalah suatu kata yang memiliki beberapa makna. Secara etimologi, kata radikal berasal dari bahasa latin “radix”, yang berarti, akar, sumber, atau asal mula. Bisa dipahami dalam pengertian yang lebih luas bahwa kata radikal mengacu pada hal-hal mendasar, pokok, dan esensi. Hal ini membuktikan bahwa kata radikal mengandung makna konotasi yang begitu luas dan mencakup lintas disiplin keilmuan. Dari pemahaman etimologi tersebut bisa dipahami bahwa melakukan penyempitan makna radikal menjadi teroris atau menyamakan keduanya adalah kesalahan mendasar. Beragama secara radikal bisa saja dipahami sebagai beragama menurut asal mulanya atau mengacu kepada sumber dasarnya. Salahkah pemahaman tersebut? Tentu tidak. Karena memang begitu seharusnya seseorang beragama.
Kata radikal dalam perkembangan selanjutnya dikaitkan dengan kelompok gerakan kiri, namun adakalanya juga dikaitkan dengan kelompok kanan. Kiri dan kanan adalah istilah lazim yang digunakan untuk mengklasifikasi gerakan kelompok dalam ilmu sosial. Banyaknya konotasi makna kata radikal menjadikannya kata ambigu yang ditarik ulur sesuai kebutuhan. Namun terkadang masyarakat dan bahkan negara gagap menempatkan kata radikal. Pada dasarnya kata radikal ataupun radikalisme dalam pengertian paham distigmatisasi menjadi tindakan ekstrim sebagai lawan dari kata moderat. Harus diperhatikan, jika kata radikal disejajarkan dengan tindakan ekstrim atau bahkan kekerasan, maka hal tersebut sangat bertolak belakang dengan pengertian Islam sebagai derivasi dari kata salam yang berarti damai.
—————————————————————————————————————————————–
Setidaknya ada dua hal yang harus dipahami untuk mengurai benang kusut terorisme di Indonesia. Tidak hanya berlaku dalam kasus pembakaran markas Polres Dharmasraya saja, tapi juga dalam kasus-kasus lain. Pertama, perlu adanya kesadaran masyarakat untuk membangun daya rekat sosial sesama masyarakat. Masyarakat diharapkan lebih responsif  serta peduli dengan lingkungan sekitarnya. Kesadaran masyarakat tersebut juga harus ditopang dengan pendalaman pemahaman keagamaan agar tidak terjerumus pada ideologi menyimpang dan merusak. Kedua, negara dan semua unsurnya harus diberikan pemahaman yang mendalam tentang agama dan kebijaksanaan lokal  (local wisdom) agar tidak mudah menuding, mencurigai, menuduh, dan mematai-matai kelompok atau agama apapun hanya didasarkan pada tampilan fisik saja. Negara tidak boleh gagap membaca ekspresi keberagamaan masyarakat dan latah memvonisnya sebagai gerakan menyimpang.
Setiap warga negara berhak menjalankan keyakinannya asalkan tidak bertabrakan dengan asas negara. Siapapun tidak boleh mengambil kesimpulan secara prematur dan asal-asalan untuk menghindari polemik yang memancing perdebatan. Padamkan api masalahnya dan jangan tebar bara yang masih menyala tersebut.
Wallahu a’lam….


Rabu, 29 Maret 2017

Nagari Bukit Bual: Dengan Olah Raga Para Layang dan Gantole Siap Membesarkan Wisata Ranah Lansek Manih

PARALAYANG NAGARI BUKIT BUAL

Sijunjung--Rencananya, ada sesuatu yang baru, jika ke Wisata Danau Hijau Nagari Bukit Bual Kecamatan Koto VII Kabupaten Sijunjung. Sesuatu ini akan membuat para wisatawan semakin tertantang adrenalinnya, sebab dalam satu perjalanan, bisa memilih ragam wisata Nagari Bukit Bual, bukan saja keindahan asri panorama sawah dan perbukitan, serta bukan Wisata Danau Hijau saja, Namun sebuah olah raga extrempun akan disuguhkan oleh alam Nagari yang menjadi tapal batas antara kodya Sawahlunto dan Kabupaten sijunjung.
Wali Nagari Bukit Bual, Otriwandi S.Pd,  mengungkapkan,bahwa pemerintah Nagari telah mencoba mendiskusikan dan memngadakan peninjauan tentang pengembangan obyek wisata Danau Hijau, yang berada di Nagari Bukit Bual, Kecamatan Koto VII akan dijadikan salah satu destinasi wisata alam yang beragam, apalagi dengan mengembangkan wisata alam dengan sebuah olahraga .


“Pada tahun ini, kita telah mendapat dukungan dari semua unsur baik DPRD, Pemerintah, dan KONI, serta para pemuda pecinta alam, terutama masyarakat nagari Bukit Bual untuk mengembangkan sebuah objek wisata, kalau sekarang hanya yang dikenal oleh masyarakat wisata Danau Hijau saja, alhamdulillah berkat dukungan dan saran dalam pengembangan objek wisata. Karena Nagari kami dikelilingi perbukitan tinggi, maka kami sepakat untuk merintis dan memperdayakan paduan sebuah olah raga extrem yang belum ada di Sijunjung, dengan korelasi yang berhubungan erat dengan distenasi wisata alam kami yaitu olah raga Paralayang dan Gantole” jelasnya saat berkumpul di zona take off  paralayang pada Mingggu, (26/3/2017).

Menurut Otriwandi, pemberdayaan wisata dan pengembangan olahraga sangatlah tepat dalam membantu pembangunan sebuah nagari. Hadirnya Paralayang dan Gantole di Nagari Bukit Bual membuat para wisatawan akan tertantang melihat panorama alam nagari Bukit Bual pada ketinggian.

“Hadirnya cabang olah raga ini, pasti akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat, dan juga telah memperkenalkan sebuah cabang olahraga yang sangat awam oleh masyarakat kami. akses jalan akan kami sempurnakan, dan itu bisa membuat para pengujung lebih cepat melakukan aktifitas di sekitar obyek wisata paralayang. Di sana juga akan dibangun sebuah spot berfoto yang bisa dinikmati oleh para pengujung,” jelasnya.

Menurut Muslim, Selaku putra Nagari Bukit Bual, juga menjabat sebagai Anggota DPRD Sijunjung, yang menjadi tokoh utama dalam pembentukan cabang olah raga para layang, juga menjadi penggerak dalam uji coba test landing di arena pebukitan nagari Bulit Bual yang menjadi Spot take off olah raga tersebut.

"Untuk konsep pada hari ini, telah dilakukannya test landing dan arena yang akan menjadi tempat take off, dari tiga tempat yang menjadi testing, hanya satu tempat yang menjadi "the best zona", yaitu tepatnya di atas perbukitan wisata Danau Hijau. Sebab ini berpapasan dengan wisata Danau Hijau, saat para pengunjung akan melihat langsung para paralayang terjun dari ketinggian bukit, sedangan para paralayang akan menikmati lansung dengan terjun bebasnya tanpa hambatan, tambah, disuguhi keindahan panorama alam, danau dan perbukitan bekas tambang" katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Diporpora) Kabupaten Sijunjung, Yofritas Yon menambahkan, Nagari Bukit Bual Sangat tepat untuk merintis cabang olah raga Para Layang dan Gantole, sebab Kabupaten Sijunjung belum mempunyai cabang olahraga ini, apalagi dipadukan dengan peningkatan distenasi wisata.

“Rasa syukur, yang amat tak terhingga, dengan semua unsur masyarakat tak kalah bersemangat untuk mempersiapkan segala kekuatan untuk bisa test landing tadi, dan alhamdulillah ketika saya tiba di puncak dengan melihat panorama yang sangat berklaborasi dengan olah raga ini, bersamaan dengan menyaksikan atraksi paralayang yang akhirnya sukses landing, saya optimis distenasi wisata di nagari Bukit Bual bisa berkembang, dan tak kalah bersyukur, cabang olah raga paralayang dan gantole siap ada di kabupaten Sijunjung” jelasnya.

Menurutnya, dulu mungkin tidak ada yang mengenal dengan olah raga se-extrem ini, sekarang dengan potensi alam Nagari Bukit Bual, dan berkat dukungan peran semua unsur yang membantu  nagari Bukit Bual menjadi desa atau nagari wisata paralayang, dan ke depan bakal diadakan event berkelas nasional, demi untuk langkah awal dalam promosi distenasi wisata.

"Melihat kesuksesan uji coba tadi, saya optimis olahraga ini menjadi spectrum dalam pengembangan wisata dan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Saya juga telah mendiskusikan dengan semua unsur baik DPRD yang diwakili saudara Muslim, dan Pemerintah serta masyarakat, untuk secepatnya merealisasikan olahraga paralayang, apalagi daerah kita telah memiliki atlit asli dari anak nagari kabupaten Sijunjung, dan pada tahun 2018 mendatang, Insyallah kita maleksanakan event perlombaan tingkat Nasional Olah Raga Paralayang dan Gantole di kabupaten Sijunjung, dan olahraga extem ini, Siap Membesarkan wisata dan marwah kabupaten yang sering dikenal dengan nama Ranah Lansek Manih " pungkasnya. (FRA)






Senin, 22 Agustus 2016

TERBENTUKNYA PENGURUS ISNU KABUPATEN SIJUNJUNG

Sijunjung-.Pada hari Minggu 20/16 bertempat di Masjid Babussalam Sungai Lansek sekitar 40 orang sarjana NU dari berbagai kecamatan Kab. Sijunjung berkumpul. Mereka ingin berkiprah di NU sebagaimana telah dilakukan oleh para orang tua mereka. Hanya mereka bertanya di bidang mana mereka akan melakukan itu.
Pada kesempatan itu, hadir  para pengurus Cabang NU Kab. Sijunjung Ketua Buya Bustamam Habib, Sekretaris Pebriyaldi SH.MH. Ust. Nofriadi Zulka Syafii, Khatib Lindo Karsya.
Dalam sambutannya, Ketua PCNU, Buya Bustamam Habib mengatakan bahwa setelah PCNU melaksanakan Training of Trainer di Kab. Sijunjung mulai nampak potensi SDM NU di daerah. Untuk itu, PCNU ingin memanfaatkan potensi SDM NU itu untuk membesarkan NU.
"Dari potensi SDM itu adalah para sarjana yang memiliki latar belakang disiplin ilmu yang berbeda. Oleh karena itu, PCNU memfasilitasi dan menghimpun kekuatan sarjana NU di satu wadah, dan wadah yang ada di NU adalah ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama)" ucapnya
Pembentukan ISNU Kab. Sijunjung
Sehingga PCNU berharap para sarjana NU Kab. Sijunjung bisa membentuk kepengurusan ISNU yang bisa dijadikan sebagai wadah berkiprah mereka dalam membesarkan NU. Dalam kesempatan inipun PCNU berharap agar ketua PW ISNU Sumatera Barat bisa mendukung dan mengapresiasi secara lebih jauh tentang ISNU hingga memotivasi kader sarjana NU Kab. Sijunjung agar bisa membentuk dan membawa NU Kab. Sijunjung kepada posisi yang lebih baik lagi.
Sedangkan dalam pidato ketua terpilih ISNU Kabupaten Sijunjung
Fadhlur Rahman Ahsas, S.Pd. menyatakan bahwa masa depan NU selain ditopang oleh pesantren sebagai basis dasar juga akan ditopang oleh para sarjana yang akan menjadi  tulangpunggung pergerakan NU ke depan, karena pada masa sekarang sudah banyak santri yang menjadi  sarjana, yang harus dimanfaatkan sesuai dengan bidang keilmuannya. Oleh karena itu, semua jalur harus kita gunakan untuk kebesaran NU bukan hanya masalah agama saja.
Ia menambahkan masa sekarang, sarjana NU berserakan, dan itu merupakan potensi terpendam yang harus disatukan untuk menggerakan dan membesarkan NU. Harus ada sesuatu yang membuat para sarjana NU termotivasi untuk berkumpul. Jika sarjana berkumpul dan berhimpun dalam satu organisasi maka kita bisa saling menyapa dan membantu, yang besar menguatkan dan membesarkan yang kecil dan yangbesar semakin kuat.
”ISNU di Kabupaten Sijunjung ini terbentuk, saya sangat bangga. Sebab, dengan terbentuknya ISNU, memberikan harapan baru bahwa faham ahlussunnah wal jamaah (Aswaja) akan terus ditanamkan kepada masyarakat, khususnya pada ranah Lansek manih"
Menurutnya, NU bukan hanya sebatas organisasi seperti partai politik atau organisasi lainnya. Tetapi NU merupakan jalan kehidupan. NU membimbing dan mengarahkan manusia kepada jalan kebenaran. Mengabdi di NU tidak akan sia-sia dan tidak akan rugi.
Selesainya rangkaian  agenda terpilihnya ketua ISNU Kabupaten Sijunjung maka segenap keluarga besar baik para pengurus dan anggota PC NU kabupaten Sijunjung. Mengucapkan selamat terpilihnya kepengurusan ISNU Kab. Sijunjung yang akan menghimpun dan memberdayakan kekuatan sarjana NU Kabupaten Sijunjung untuk membangun NU menuju ke gerbang kemajuan, keberhasilan dan kebahagiaan dalam ridho Allah swt. bi thariqah ahlussunah wal jama’ah.

Kamis, 18 Agustus 2016

Meskipun Bambu Sebagai Tiang Bendera "Masyarakat Kabun Tak Mengurangi Rasa Patriotisme dan Nasionalime"

Peringatan HUT RI di daerah Tertinggal

Masyarakat Umum Jorong Kabun Sukseskan HUT RI 71

Sijunjung- Memperingati HUT RI ke-71 tahun kemerdekaan, berbagai
kemeriahan tersebut begitu kontras dengan suasana di beberapa nagari
ataupun desa yang ada di pelosok negeri, diantaranya di Jorong Kabun
yang berjarak hanya 7 KM dari pusat kota kabupaten Sijunjung, adalah
salah satu jorong yang masih tertinggal di kabupaten Lansek Manih
tersebut. Jorong yang dihuni oleh hampir 1000 penduduk tersebut,
selain sulitnya akses jalan menuju jorong tersebut juga masih minim
sentuhan dari sektor pembangunan.

Dalam kelebihan dan segudang kekurangan daerah tersebut, status jorong
Kabun masih menjadi suatu tanda tanya besar bagi sebagian masyarakat
Sijunjung. Secara pemerintahan, Kabun merupakan salah satu Jorong dari
kenagarian Sisawah, Kecamatan Sumpur Kudus. Tapi secara geografi,
Kabun memiliki jarak lebih dekat ke pusat kota. Bahkan secara ekonomi,
Masyarakat Kabun lebih memilih membeli sembako dan kebutuhan lainnya
ke Muaro Sijunjung

Meskipun belum menikmati pembangunan secara keseluruhan, rasa
nasionalisme dan patriotisme masyarakat di jorong Kabun tak kunjung
padam. Para warga di jorong tersebut hampir setiap tahun merayakan dan
memperingati HUT RI dengan suka cita dan meriah. Dan mungkin jarang
kita temukan Upacara Bendera dilaksanakan di daerah terpencil dan
kurang tersentuh bantuan tersebut dilaksanakan warga dengan penuh
semangat dan rasa nasionalisme yang tinggi.

Bahkan yang paling unik, perayaan HUT RI ke 71 di Kabun pada Rabu
(17/8) kemarin, diiringi dengan kesenian talempong dan adat istiadat
Minang Kabau serta menggunakan bambu sebagai tiang bendera dan
diunjung tiang bambu tersebut dipasangi “Tekong” atau cangkir plastik
yang berfungsi sebagai alat pengerek bendera dengan melalui kuping
cangkir plastik yang dipasang tersebut.

Suasana upacara HUT RI ke-71 di jorong kabun sangat Khidmat dan
meriah, terlihat dari antusias masyarakat jorong Kabun yang berbondong
bondong ke lapangan upacara. Mulai dari arak arakan dengan menggunakan
alat kesenian Talempong para pelajar hingga organisasi dan ninik mamak
dari ujung pemukiman hingga ke lapangan upacara.

Bahkan, sebagian besar peserta upacara bendera berasal dari pemuda dan
masyarakat Jorong Kabun serta perangkat adat seperti Bundo Kanduang
dan Ninik mamak, sedangkan 25 persen  peserta upacara berasal dari
siswa PAUD Permata Bunda, SDN 7 Kabun dan SMPN 39 Kabun terlihat
mengikuti upacara bendera HUT RI ke 71 tersebut dengan penuh semangat
tanpa memperdulikan teriknya panas matahari.

Bakir (30) salah seorang tokoh pemuda di Jorong Kabun Kenagarian
Sisawah Kecamatan Sumpur Kudus mengatakan bahwa acara pelaksanaan
upacara bendera dalam memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia merupakan agenda wajib yang mesti dilaksanakan di Jorong Kabun, bahkan warga masyarakat sekitar selalu antusias untuk mengikuti pelaksanaan upacara bendera tersebut dengan menggunakan pakaian seadanya tanpa diwajibkan harus menggunakan sepatu. “Hampir setiap tahun kami merayakan HUT RI yang terselenggara berkat sumbangsi masyarakat Kabun.

Kami percaya dibalik semua ini, ada hikmahnya dan yang terpenting
adalah makna dri HUT RI tersebut, bukan masalah pakaiannya, akan
tetapi mengerti serta pemaknaan itu sendiri dalam rangka HUT RI Ke 71.
Percuma saja menggunakan pakaian bagus-bagus saat upacara jika rasa
nasionalisme serta patriotrismenya tidak ada,” ujarnya kepada
wartawan, Rabu (17/8) usai melakukan acara.

Bakir juga menyebutkan, meskipun kampung halamannya tersebut jauh dari
pusat keramaian, akan tetapi merayakan hari kemerdekaan negara
republik indonesia adalah hak semua warga negara dan bukan hanya hak
kaum pelajar, guru dan pejabat, akan tetapi masyarakat yang seyogyanya
ikut serta merasakan dan menghayati tanggal bersejarah ini. “ Kami
berharap, perayaan ini bukan sekedar ceremonial saja, akan tetapi bisa
meningkatkan rasa nasionalisme kepada anak, cucu dan kemenakan sebagai
calon pemimpin nantinya meski tidak pernah dihadiri oleh pejabat
daerah maupun anggota DPRD Kabupaten Sijunjung”,ujarnya.

Pihaknya juga berharap kepada pemerintah daerah Kabupaten Sijunjung
dan anggota DPRD Sijunjung agar pembangunan infrastruktur di Jorong
Kabun mendapatkan perhatian yang serius, sehingga warga masyarakat di
Jorong kabun yang terpencil bisa merasakan pembangunan yang adil
merata seperti daerah lainnya. ”Jalan kami masih tanah, kami tidak
punya akses jalan yang bagus, padahal jorong Kabun hanya berjarak 7 KM
dari pusat ibukota kabupaten dan kami tidak menuntut, tapi berikanlah
pembangunan yang seadil-adilnya bagi seluruh daerah sebagai rakyat
Indonesia,”sebutnya.

Sementara itu, kepala sekolah SMP Negeri 39 Drs. Muhammad, S.Pd.I, MM
yang bertindak sebagai pembina upacara menjelaskan, walaupun tidak
berpakaian seperti masyarakat diperkotaan, warga di Jorong Kabun tetap
semangat dalam memaknai arti nasionalisme dan  patriotisme, dan selaku
kepala sekolah yang diberi amanah untuk menjadi pembina upacara
pihaknya mempunyai rasa haru serta memberikan apresiasi yang begitu
besar kepada warga jorong kabun yang rutin menggelar Upacara Bendera
Peringatan HUT RI setiap tahun, meskipun dengan penuh kesederhanaan.
"saya terharu dan memberikan apresiasi yang sangat besar kepada
masyarakat Kabun, baik pemuda dan ninik mamak serta warga lainnya yang
menjadi peserta upacara yang ingin merasakan khidmatnya memperingati
kemerdekaan terutama memupuk dan menumbuhkan rasa nasionalisme"
terangnya

Sedangkan fasilitas infrastruktur yang memadai, hingga kini masih
belum dinikmati secara merata, namun masyarakat sempat memikirkan
untuk mengadakan perlombaan memeriahkan HUT RI walaupun dengan kondisi keterbatasan di pelosok yang masih cukup memprihatinkan.
"Meski usia negeri ini sudah memasuki 71 tahun, harapan saya selaku
pendidik, dengan potret pendidikan sekarang, hendaknya lebih baik
tahun ketahun itulah harapan sebagian masyarakat di pedalaman. Semoga
pemerintah daerah semakin memperhatikan kondisi infrastruktur
pendidikan lengkap dengan perhatian bagi pendidik terkusus jalan yang
menjadi sarana pendukung kemajuan kami" imbuhnya
Keindahan dan keasrian daerah ini menambah semaraknya perayaan HUT RI.

Tatanan adat istiadat juga masih kental di dalam jiwa masyarakatnya.
Bahkan menjelang sore, masyarakat setempat sudah berkumpul dan
berbondong-bondong menyaksikan berbagai event yang diselenggarakan
oleh pemuda dan pemuka masyarakat Kabun.
Dalam menyambut HUT RI ke 71 tahun ini, masyarakat di Jorong Kabun
juga menggelar beberpa event untuk menyemarakkan peringatan HUT RI
diantaranya event Turnamen Volly Ball, Bola Kaki, Motor Lambat, Lomba
makan kerupuk, Pacu botol dan permainan anak nagari lainnya seperti
pertandingan domino. Dimana event tersebut sudah dimulai dari tanggal
13 Agustus yang lalu. (Fad)

Senin, 31 Agustus 2015

TRAGEDI LANSEK MANIH




FRA
Tragedi Lansek Manih bermula dengan kekhawatiran masyarakat dengan kultur budaya dan perkembangan pembangunan di ranah Lansek Manih yang sangat miris dengan kemunduran dan keterbelakangan. Bukan saja dari aspek itu, bahkan aspek kepemimpin tidak bisa membela rakyat dan anggotanya dari curamnya jurang dan derasnya gelombang hingga hari ini banyak korban dari kesalahan dan kebodohan kita semua.

Kemudian penulis mencoba menalaah rekam jejak dari masa kemasa perjalanan ranah ini, hingga penafsiran lagu minang era tahun 50-an yang diciptaan Nuskan Syarif lalu dipopulerkan oleh Elly Kasim, yang sering didendangkan banyak penyanyi asal Sumatera Barat. Lagu tersebut awalnya menceritakan kelokkan suatu daerah di Minangkabau yang teradministrasi sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Barat yakni Kabupaten Sijunjung, sebelum pemekaran bernama Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung.

Lagu tersebut hingga saat ini masih terdengar indah dilantunkan, sampai menjadi ringtone favorit oleh masyarakat Sijunjung di telpon genggamnya. Bila dimaknai, memang lagu tersebut menggambarkan Kabupaten Sijunjung dengan ikon daerahnya buah lansek sejenis duku. Hingga lagu tersebut menjadi pameo bahwa Sijunjung kaya akan lansek dan atau lanseknya memang terkenal manis sehingga dijuluki Ranah Lansek Manih.

Sebagian anggapan dan pertanyaan yang jelas, yang sempat dipertanyakan khalayak ramai. Bahwa Sijunjung lansek manih, namun jangankan manisnya buah lansek, menemuinya saja sangat sulit di Kabupaten Sijunjung sendiri. Meskipun masih banyak lahan-hutannya, saya sempat terpikir juga, " kok ga ada ditemukan pohon lanseknya ya" dikutip dari blogspot De Journal Nimiasasti yang berjudul Sehari di Nagari Lansek Manih.

Begitupun di media cetak menuliskan pertanyaan tentang hal yang sama, beberapa pertanyaan dan dugaan yang muncul dari buah lansek.  “Apakah Kabupaten Sijun­jung dina­mai Ranah Lansek Manih karena buah lansek nan manis tersebut begitu banyak di Kabu­paten Si­junjung. Atau hanya sebuah legenda yang mengisyaratkan dan meng­gambarkan bahwa, dulu per­nah ada kejadian yang membuat lansek menjadi terkenal hingga dijadikan ikon daerah Kabupaten Sijunjung” Red: Haluan 20/2/13

Sugesti Negatif

Nah, inilah asas penulis menjadikan tulisan ini dengan judul Tagedi Lansek Manih, sebab dari semua rekam jejak atas nama lansek manih selalu menjadi pertanyaan dan mempersoalkan nama dan lagu tersebut. Alhasil lagu Lansek Manih yang sekarang menjadi kebanggaan orang nomor satu di Kabupaten Sijunjung telah menjadi polemik. Kenapa? Banyak alasan untuk membuat kita mempersoallakan lirik dari lagu itu. Diatas sangat jelas apa yang dipersoaallakan oleh masyarakat Sijunjung sendiri.

Sugesti negatif pun lahir dari pemikiran masyarakat kabupaten Sijunjung dengan lirik lagu lansek manih tersebut. Bahwa didalamnya terdapat makna sebuah kemunduran pemikiran yang amat terkebelakang, sehingga keberdaan Sijunjung yang sarat dengan kehancuranpun tergambar pada tafsiran lagu Lansek Manih itu.

Mari kita renungkan satu persatu dari lirik yang melahirkan Sugesti negarif itu.
Pertama : Den etong sado nan masak, nan busuak tingga di ambo, Den etong lansek nan masak, nan busuak tingga di ambo.
Lirik pertama ini saya menafsirkan pada penafsiran yang membawa masyarakat dalam kelemahan perjuangan pada pembangunan ekonomi dan kultur budaya. Kenapa ? dari lirik ini mengartikan “saya hitung seluruh yang masak yang busuk tinggal sama saya” dari rekam sejarah bahwa yang selama ini memimpin Sijunjung bukan putra daerah, hbingga terbesit dari masyarakat, apapun hebatnya putra daerah dalam memperjuangkan nagari demi cinta nagari, dan seberapa hebat putra daerah dalam membangun ekonomi nagari tetap untuk meraka yang telah menjaual negeri kita.

Kedua  : Nan ampek dibalah ampek, nan limo bilangan jari, Iko bukan sumbarang lansek, Sijunjuang lanseknyo manih
Yang kedua  menafsirkan bahwa, masyarakat terperana dengan kata manisnya, hingga yang pahit berubah manis atau yang manis itu tidak akan pernah ada. Mungkin saja lirik ini mengartikan sebuah politikalisasi supaya masyarakat Sijunjung tetap tersenyum walau kepunahan itu, tidak berani mengatakan yang benar walaupun itu pahit, hingga kesalahan semakin manis terasa.

Ketiga : “Iko tukuak, iko tambah, paragiahnyo perai sajo”
Akhirnya masyarakat Sijunjung dari masa kemasa, tidak bisa membangun dan mengembangkan apa yang ada, bahkan kelihatan rekam jejak masyarakat dengan nagari yang penuh dililit hutang karena ada kata “Iko tukuak dan Iko tambah” yang memberi sugesti negative terhadap karakter orang orang Sijunjung yang tidak mempunyai kreatifitas, keinginan untuk berjuang, bahkan penulis menafsirkan ingin enaknya saja. Pada arti “paragiahnyo perai sajo”

Sementara itu, kita hanya asik dan bangga, kala lirik ini mempunyai kontradiksi terhadap Sijunjung masa depan, sebab dalam lirik ini mempunyai seribu tafsiran Sugesti Negatif yang akan berakibat pada masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, tujuan penulis disini nak memberikan kabar untuk kita semua,bahwa lirik lagu yang membawa kabar perisa atas mundurnya karakter dan kulutur masyarakat dalam membangun kemandirian dan keyajayaan, Penulis acap kali menemukan bahwa masyarakat tidak berani dalam bertindak, dan takut untuk berbicara benar, bah semakin menahun, malah semakin tiada bak kata yang diucapkan dalam air, mengembul iya terdengar tidak.

Demikianlah, Tragedi antar buah yang manis dan yang pahit, menjadi pembelajaran dan senantiasa dalam memberiakan kepedulian terhadap perjuangan ranah Sijunjung ini lebih jaya dan sejahtera. Sebelumnya ada sebuah pesan yang berbunyi "say the truth even if it may be bitter", begitulah bunyi pesan sakral yang tersirat dari makna kalimat itu yang pernah disampaikan Rasulullah Muhammad Saw. Pesan tersebut barangkali bisa dikaitkan dengan permasalahan yang terjadi di negeri ini yang melibatkan para pemimpin di negeri ini. namun juga berlaku bagi semua manusia tanpa terkecuali. Insyallah, Allah meneguhkan kita selalu di atas kebenaran dan diberi taufik berkata yang benar walau itu pahit. Hanya Allah yang memberi taufik.