Permintaan Bahan

Loading...

Jumat, 28 Desember 2012

CERPEN


Serpihan Ombak Dalam Balada Cinta*
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti kata yang tak sempat di ucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti isyarat yang tak sempat di kirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada...(Sapardi Djoko Damono)
Ruang itu kecil, tapi cukup memenuhi untuk beristirahat dan menghabiskan separuh hari-hariku  menulis apa yang terfikir dan membaca apa yang inginku baca. Di muka pintu masuk, terbentang sebuah dipan, disitulah aku sering terbaring sambil mendengarkan lantunan lagu-lagu yang membawa aku tidur lelap, ini menggambarkan sebuah deretan warna kesendirian
Aku baru saja menginjak usia 28 tahun. Kata orang aku ini sudah dewasa, karena mereka melihat dari umurku. Namun, teman-temanku berkata lain aku masih anak-anak, kaena aku belum mempunyai seorang yang spesial, dan belum bisa menaklukkan seorang wanita untuk menjadi pasangan hidup akhirnya, bahkan mereka bilang aku ini gag normal. Mengapa harus seorang wanita atau yang menjadi tolak ukur sebuah kedewasaan, pendapat mereka aku bilang gila dan tidak sesuai menurut pandanganku. Bukannya, sebuah kedewasaan di ukur dari momentum sikap, dan tindakan dalam memahami semua lika-liku kehidupan.  Hingga semalaman  aku tidak bisa tidur memikirkan opini gila, yang tak masuk akal itu.
Hari esok pun tiba, sebuah tugas penting tentang pendapat gila yang harus aku selesaikan, di sebuah perkantoran yang berada jauh dari rumah, yaitu kantor temanku yang bernama Arif, karena permasalahan mulai dari pendapatnya. Tepat pada jam istirahat, kami perjumpa dan duduk di lobi sambil membicarakan hal itu.
“Arif aku gag tidur semalaman karena opinimu gentayangan dan bertolak belakang sama aku?”
“Hahahah, kamu pikirin juga ya Bram”
“Iya lah,, karena aku diledekin sama teman-teman, karena aku belum dewasa! Lagi pula kamu yang bikin opini gila!” tatap raut wajahku cemberut pada arif.
“oh gitu toh masalahnya, oke, oke aku jelasin sama kamu, sebelumnya aku ingin dengar  pendapat kamu!”
“baik, opiniku adalah kedewasaan itu bukan dilihat dari sikap dan tindakan kita dalam menyikapi sesuatu hal, dengan baik dan bijaksana! Bukan tolak ukur-nya wanita.” Tegasku
“Oke Bram saya setuju dengan pendapatmu” kata Arif.
Perdebatan sengit di lobi berkecamuk
“Pendapat Bram masih dibilangin, Universal, karena kedewasaan ruang lingkupnya luas! Dan lagian kamu terlihat tidak memahami apa kedewasaan.”
“kedewasaan apa yang tidak aku pahami” tanyaku kembali.
“Dilihat dari umur kamu telah menempuh proses puberitas, sekarang kamu akan memulai proses lanjutan, itu yang pertama” , kedua, Pria harus bisa memahami sesuatu yang halus, dan mengerti dengan suatu yang lemah, yaitu wanita” ketiga, dengan apa kamu harus mengerti dan memahaminya?”
“Dengan baca buku Psikologi  tentang itu” sautku
“ Bram tak cukup hanya dengan membaca refernsi dan teori, karena ini masalah perasaan bro! sifatnya bukan teoritis!”jelas Arif menatap mataku.
Arif menjelaskan semuanya, dengan memberikan sampel-sampel dalam kehidupan. Aku pun terhanyut dalam penjelasan Arif. Sebab, aku terlalu mudah memahami kedewasaan itu, akhirnya aku mengaku salah, hingga kami melanjuti perbincangan sambil makan siang, sekaligus menutupnya.
***
Sepulang dari kantor Arif, aku melihat sebuah pengumuman  terpajang di gerbang  kantor Pos. Pengumuman itu sebuah kompetisi karya tulis, dengan tema “Arti Kedewasaan Hidup Dalam Memahami Cinta”untuk memperingati Hari Kasih Sayang se-Dunia diambil dua orang pemenang. Dan aku tertekun sejenak sambil menatapi pengumuman itu, yang lebih membuat aku tertarik  yaitu dengan temanya.
“Wah!! pendaftaran paling terakhir hari ini, mumpung aku di sini daftar sekarang ah! ”, semangatku. Aku segera mendaftarkan diri, seiring aku mengisi formulir pendaftaran, seorang perempuan memakai kerudung hijau kearah mejaku, serompak mataku mengiringinya, berdetak hatiku bicara “ya Allah sungguh anugrah bagiku dapat melihat kesempurnaan pada makhluk Mu”, lalu ia duduk disamping kursiku, dengan sopan ia menyapaku dengan sebuah kalimat keselamatan.
“Assalamualaikum, permisi !” sapanya.
Mendengar sapaannya, hatiku terasa bagaikan serpihan ombak, laksana dalam kedamaian dan keindahan.
“waalakumussalam” jawabku, tak kuasa menahan diri untuk mengenalnya, tapi apa lah dayaku , gugup dan malu melilit ke inginanku,  aku  dan dia serentak mengumpulkan form pendaftaran, sampai menimbulkan satu pandangan yang menyatu, dari tatapan mata ke mata seakan berbicara tentang kehidupan, lalu ia mengakhiri pertemuan ini dengan sebuah senyuman, dan ia meninggalkanku.
Senyuman kejujuran itu membawa warana hari-hariku berbeda. Dengan sesuatu yang tidak aku mengerti, dan membuat keadaanku berubah, biasanya aku terbaring tidur di atas dipan dengan iringan sebuah lagu. Sekarang, hampir setiap malam hanya wajah dia yang anggun terlilit hijab menghampiri tidurku.
Minggu yang cerah aku pergi menuju rumah Arif, mungkin ini saat yang tepat untuk meminta saran kepada Arif, karena hari Minggu Arif pasti dirumah, pasan ia ada di rumah sedang membersihkan mobilnya, aku segera menyampirinya.
“Pagi sobat, apa kamu sedang sibuk?”kataku basa-basi.
“ Tidak lah, untuk temanku ini, aku sediakan waktu setiap saat!” Sambil memberikan senyuman.
“Yuk bram silahkan duduk, ada apa yang mengirimmu kesini” tanya Arif
“Begini masalahnya bram,, sebelumnya kata kau yang dulu itu benar, aku masih anak-anak”ujarku
“oh ya, terima kasih Bram, kalau begitu!”
Lalu aku menjelaskan semuanya tentang apa yang terjadi pada diriku sekarang hingga aku sampai di rumahnya. Arif pun spontan memberikan sebuah saran dan hikayat “ Dalam Al-Syura 42 yang berbunyi : (Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang baik dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Yang Maha Mendengar Dan Melihat. “Bram sudah jelas manusia memiliki kelemahan, keterbatasan, dan kekurangan. Realitasnya ini adalah fitra dari ciptaan. “lalu bagaimana” ujarku. Arif melanjutkan penjelasannya, “dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita melakukan suatu hal memiliki kelemahan, kekurangan, dan keterbatasan, sedangkan disisi lain manusia berbagai keinginan, kehendak, harapan, tujuan, cita-cita, hasrat, dan ambisi. “Terus apa yang harus kita lakukan ketika kita menemui kelemahan- kelemahan itu?” tanyaku sambil teperonga.
Lalu Bram mengambil segelas air, dan satu bungkus garam beserta satu bungkus gula.
“Kamu tahu jika air di campur dengan gula akan manis, begitu juga dengan garam, air akan menjadi rasa asin” 
“Lalu kelemahan aku dimana ?” sautku
“kelemehan kita adalah tidak ingin untuk mencoba, manis dan asinnya kehidupan, sebab, sesuatu yang kita ketahui prosesnya terjadi, belum tentu benar, karena Sang Kholiq yang Maha mengetahui. Ibarat Falsafah Arab “ Jarib walahittakun ‘arifan”, cobalah kalau ingin tahu!” penjelasan Arif padaku.
“oke Sobat, emang kamu yang nomor satu tentang masalah ini, kalau begitu aku pamit dulu yah, karena ingin mencoba menegenalinya. Thanks alot brother” sambil memeluk Arif.
“Pesanku terakhir gunakan lah efek zikrullah. Karena akar semua aspek kehidupan ini adalah ibadah mengingat-Nya, camkan itu kawan” pungkas Arif.
Hari demi hari, aku lewatkan dengan menulis dan berzikir, hingga naskah untuk perlombaan pun hampir selesai. Meski aku dirajuk penasaran dengan wanita itu, tetapi aku tetap optimis akan perasaanku, layaknya seorang heroisme di dalam peperangan.
Setelah dua minggu dengan renggang waktu antara pendaftaran dan penegumpulan naskah, aku bertemu dengan perempuan yang dililiti hijab itu disebuah toko buku dekat pantai, ia sedang mencari buku bersama teman-temannya. Antara rak-rak buku ia tak lepas dari pandanganku, kemudian aku mengikuti mereka, samapi mereka keluar dari toko dan berhenti di jejeran batu pantai untuk menikmati serpihan ombak.
Ketika mereka duduk disana, barulah aku menyampirinya, dengan rasa tidak ragu, aku memberikan sepingka tulisan di lipatan kertas . lalu aku menyapanya “Assalamualaikum”.
“Waalaikumussalam”,mmmm...! abang ini rasanya, pernah bertemu sebelumnya, di mana ya?” mentup mulutnya sambil berfikir.
“ Iya. Kita bertemu di kantor pos sewaktu pendaftaran lomba menulis”
“Oh iya...  ya, baru aku ingat ni?.
Cerita satu cerita aku mulai, hingga ia bertanya “ kertas apa ini?” 
“Jangan dibuka dulu lipatannya, nanti aja dibaca di rumah” larangku
Kendatipun aku larang. Namun, ia tetap membacanya.
Sebingka tulisan itu berbunyi :

Bunga, kau menghampiri khayal setiap ufukku
Nahkoda hatiku berlayar hanya wajahmu
Menimbulkan selaksa misteri duniawiku
Bunga dan kau bunga!
Matamu, seperti khafilah berjalan dengan kefakihanya
Senyummu, seperti musafir berjalan dengan kejujuranya
Wahai dikau bunga!
Harapku,surga akan mengalir dalam taman ilmu
Akan kah surga itu ada dalam kepalanmu
Kadangkala siungkan suara-suara nahwamu
Sungguh aku tak bisa menjawab keindahanmu
Karena kau bukan makhluk yang sempurna
Selimutmu berabu  dalam malamku
Dan aku terasa ditusuk oleh duri durimu
Cukup, sudah merah niat ini untuk tahu namamu
‘Salam dari ku’
 tertanda (Bram)”

Angin pantai berhembus setiap kalimat tulisanku, hingga aku gugup bercampur malu, dan wajahnya terlihat seperti serpihan ombak menyapaku. Lalu aku bertanya pada diriku sendiri “ apa ini yang disebut dengan balada? ”. Akhirnya ia membalas dengan senyuman dan mengucapakan terima kasaih” kemudian, ia menyebutkan namanya padaku.
***


Motor CB Bak Kudo Gumarang
“Brum brum”, bunyi suara motor. Engkolan kaki  semangat  menyalakan mesin motor CB,dan suaranya mengisi sudut halaman depan rumah.  Pekikan suara motor CB nak berlari bak kudo Gumarang. Tangan pun menggenggam gas dalam waktu nan renggang. Tepat pada pukul enam, cuaca diselimuti awan hitam, alamat hari akan hujan.  Niat hati tak kunjung padam, dua sahabat pun langsung menunggangi motor CB.  Mereka itu Junaidi dan Punco. Junai adalah seorang pemuda yang begelar sarjana muda yang masih sibuk oleh penganggurannya, dan Punco seorang mahasiswa baru tingkat dua bidang peternakan. Sebenarnya mereka teman sebaya, tetapi Junai duluan masuk universitas.

Motor CB pun melaju melawan arah angin. Junai dan Punco mengendarai motor CB dengan riang dan gembira. Hujanpun turun sangat deras, butiran air membasahi sekujur tubuh kering mereka. Punco yang duduk berboncengan dibelakang berteriak,
 “ Berhenti dulu Punco! cari tempat untuk berteduh yuk”
Junai bersegera mencari tempat berteduh.  Seiring jalanan yang menanjak, motor CB tidak bisa melaju kencang. Di ujung jalan sebelah pohon besar ada warung kopi. Mereka pun lekas berteduh di warung itu.
“Ondeh.. basah sadualah nyo”.. Acik mengeluh kebasahan dan sekilas pandangan matanyapun mengarah ke Motor CB. Motor CB yang mengkilat sebelumnya menjadi kotor, ibarat permata dalam lumpur, yang dibasahi percikan tanah liat mencair oleh air hujan.
Sambil menunggu hujan reda, Junai memesan kopi hitam, dan menghisap rokok sebatang. Karena Punco bukan seorang perokok dan minum kopi, dia hanya duduk termenung menikmati irama lagu air hujan yang memukuli atap seng warung. Sembari menikmati hujan, Junai memeriksa kantong  celananya. Ternyata semua kantong pun kosong.  Kegelisahanpun tercermin dalam raut wajahnya.
“Ada yang ketinggalan Punco, aku kira uang aku dicelana ini, ternyata di kantong celana yang lain kiranya”, risau Junai menatap mata Punco.
“Gimana Jun.. Uangku hanya seratus ribu,  sedangkan perjalanan kita jauh, dan besok pula kita pulang” jawab Punco dengan kesal.
Hujan masih deras, kalau ditunggu entah kapan berhentinya. Terngiang dalam pikirannya sebuah pilosopi minang “ mujur tak dapat diraih, malang tak dapat dihindarkan”
“Tanggung basah basah , jeput aja lah Jun, biar aku tunggu disini’ ujar Punco memberikan dorongan semangat. Maka timbulah inisiatif untuk menjemputn uang pulang kerumah  meski harus menempuh hujan yang sangat deras bersama motor CB. Setiba di rumah Junai langsung mengarok kantong celannya yang tergantung di belakang pintu kamar. Ternyata kantong celana itu hanya berisi uang 25 ribu.
 “Rasanya tak cukup untuk pergi” ibarat jatuh ketiban tangga ujarnya dalam hati. Rasa ragu-ragu pun bergejolak dalam hatinya. namun ia yakin perjalanan dengan uang sebanyak itu aman karena Punco mempunyai lebih dari yang ia miliki.

Junai lekas mengendarai motor CB nya untuk ketempat tadi, karena Punco sudah lama menunggunya. Raut wajah Punco yang gelisah menyapa Junai, “ Gimana dapat Jun?.
 “Dapat Nco, tapi...” Junai takut untuk beri kabar itu.
“Tapi apa Jun?Jangan becanda”, ujar Punco penasaran
“Tapi.. uang yang tertinggal hanya 25 ribu , terus gimana ??”  Ucap Junai dengan kecewa
 “ Aman Jun! Itu cukup untuk  membeli minyak kita pulang pergi. Hehehe “ ucap Punco sambil ketawa untuk menghibur kekecewaan Junai.

Hujan pun reda. Mereka membayar jajanan mereka dan bersiap melanjutkan perjalan dengan motor CB yang mereka kagumi.
“Let’s go brother bukittinggi We Are Coming” ucap mereka dengan gembira sambil berteriak dengan yel-yelnya.
Di tengah perjalanan dengan selang waktu setengah jam, Punco mendengarkan suara misterius dari belakang. Di sekitar perjalanan mereka hanya ditemani oleh pesawangan yang sangat sepi. Namun suara itu menghilangkan rasa ketakutan mereka, karena suara itu serupa dengan  suara kenderaan teman mereka. Ciri-ciri suara motor itu semakin jelas, jika mendekat tak kuat telinga ini untuk mendengar, terasa ingin pecah gendang telinga. Suara itu pun semakin dekat.  Acik lekas menoleh ke kaca spion kanannya. Di kaca itu berderet tiga cahaya lampu bulat mendekati motor mereka. Dengan laju kencang, suara misterius pun terjawab.
Punco segera mengeluarkan opininya tentang suara familiar itu. “firasat saya ini motor teman teman kita Jun”
 “Siapa nco?”   Junai cepat memotong perkataanya
“Dari melihat lampu itu, dan suaranya, sepertinya itu motor Simidun, Kundo dan Acong. Mereka bertiga adalah teman ngaspal motor CB ( tour pake motor CB) dan suka dengan benda kuno alias tempo doeloe. Midun itu masih kuliah semester enam di ibu kota ,berbeda dengan Kundo dan Acong, masih kuliah semester dua di kabupaten”
“Tit tit”! Sembari klakson mendekati meraka, Punco lekas menoleh kebelakang. “ Walah kalian bikin kaget aja”
“Kamaa?” Serentak semuanya bertanya
Junai dengan cepat memberikan jawaban.
“Biasa Midun ngaspal tak tentu arah, sebenarnya mau ke Bukittinggi. Mau kemana yuang* (panggilan untuk pemuda minang)?” tanya Junai balik.
“Aku mau pergi kesana juga. Udah ada janji pergi minggu kemaren sama Kundo dan Acong” pungkas Midun sambil menoleh ke Acong.
“Yuk ngaspal, mumpung sama tujuan, lets go brada”,  Teriak Punco dengan gembira.
“Yuk!” Ucap teman-teman Punco.
 “Bum bum bum” Mereka menambah kecepatan laju kendaraannya. Jalanan pun ribut oleh kicauan motor CB mereka. Junai merasakan ia seperti raja jalan dan motornya bak kuda gumarang. Gagah perkasa dan tak ada yang sehebat motornya, karena disetiap keramaian dalam menulusuri perkampungan di tengah perjalanan, masyarakat menoleh ke arah mereka. Junai dan teman-temannya menikmati perjalananya sambil melihat kelap kelip panorama lampu yang asri  menemani mereka .
Dalam kenikmatan dan kegagahan mereka yang sedang melaju kencang bersama motor CB yang diselimuti dinginnya malam, tak terasa 60 km lagi mereka sampai di tujuan yaitunya jam gadang,dengan kurun waktu selama satu jam lebih kurang.
“ Sabanta lai kito sampai Brada” ,Teriak Punco ke arah Simidun dan Kundo.
“Pret pere bumm prets sss”. Seling waktu 10 detik Punco berteriak , salah satu motor mereka ada yang mogok. Ternyata motor Midun rusak dan tak mau dinyalakan lagi. Semuanya menepi ke bibir jalan, berhenti  untuk melihat apa yang terjadi dengan motor Midun. Mereka terperonga k earah motor Midun, ia mencoba beberapa kali mengengkol motornya sampai ia muak untuk melakukannya. Junai dan Punco segera mendekati motor Midun dengan niat hati nak menolongnya.      
“Gimana Dun? Biar Junai yang engkol” Ucap Punco dengan semangat.

Wahana pertolongan terlihat jelas. Junai sibuk dengan engkolannya , Punco pun sibuk untuk mengecek pengapiannya Busi dan Karburator. Sedangkan Acong dan kundo hanya asik bercengkrama sambil duduk dipendopo dekat tepi jalan itu, tak sedikitpun terngiang niat nak menolong Midun. Tapi Junai dan Punco tak menghiraukan mereka berdua .
 “Lalu sedang ngapain mereka? tanya Midun kepada Punco, karena kesal melihat temannya acuh tak acuh dengan keadan motornya yang ditemani malam yang sunyi lagi gelap, menambah kemarahan Midun, karena Punco dan Junai kelelahan untuk memperbaiki motornya.
“Biarkan saja  Midun, jangan ganggu mereka, mereka akan sadar sendiri”, tegas Punco.
Dalam renggang waktu 20 menit Punco mendapatkan titik permasalahan motor itu. Midun pun terasa lega karena motornya akan pulih kembali. Junai pun segera menghampiri Acong dan Kundo yang sedang sibuk dengan obrolan dan gunyonannya.   Kemudian Junai menegur mereka  berdua dengan nada suara rendah, sambil menawarkan sebungkus rokok.
“Ukhuuk” Junai sambil batuk,
“Boleh gabuang, kayaknya enak betul obrolannya ? “  Tanya Junai sambil terseyum
“Boleh bang cuman cerita biasa” jawab Acong sambil balas senyuman.
“Jujur sebenarnya kalaian itu sedang apa? Hingga kalian tidak ingin bantu kami”  tegas Junai
Mereka berdua terdiam dan terkejut, sehingga tidak bisa menjawab, hanya dengan anggukan kepala saja.
Dalam hidup ini, kita mengerti kata rasa dengan perasaan, melihat kawan sedang  bekerja ya dibantu, paling tidak semampu kita,apalagi kita dalam perjalanan jauh pasti ada kendala. Ibarat pepatah “untung tak dapat di elakkan mujur tak dapat diraih”. Andaikan kalian yang mengalami kerusakan motor, apa bisa kalian itu mananggungnya sendiri?  Jika bisa itu pun berat dikerjakan. Suatu pekerjaan atau masalah akan terasa ringan jika kita kerjakan bersama sama “All for One, One for All”. Sekarang inilah contohnya, di dalam sebuah perjalanan kita ini harus ditanamkan prinsip orang Minang “kok barek samo dipiku kok ringan samo dijinjiang” jika berat sama dipikul , jika ringan sama dijinjing, “ dengan wibawanya Junai memberikan nasehat kepada mereka berdua.
“Maaf kan kami bang” , jawab mereka serentak.
“Yuk tancap gas, motor Midun sudah baikkan ,  sekarang sudah  beranjak  jam 11 malam ntar kita kelamaan di sini”, Junai sambil tersenyum ke arah Punco.
“Lets go brother”,  Punco dan Midun teriak dekat motornya.
Junai dan Punco bersiul-siul dan menyanyikan lagu’ persahabatan bagai kepompong,, , berubah ulat menjadi kupu kupu,,, nana, nana,sambil nyalakan mesin motor dan mereka ngaspal kembali
Hampir diujung perjalan tepatnya di daerah Batusangkar Tabek Patah, mereka melihat sebuah warung gorengan Kopi Kawa Daun( minuman khas orang minang tempo dulu) dan sebuah motor CB classic warna hitam. Junai pun langsung berkata kepada mereka “Gimana kalau kiata berhenti di warung itu, karena cuaca d isini sangat dingin,dan kita berhenti sejenak untuk panasin tubuh kita dengan minum kopi kawa brother” , ujar Junai kearah teman-temannya.
“Oke !”, jawab mereka serentak. Mereka pun langsung berhenti untuk menghampiri warung tersebut.
Ketika mereka sedang asyik dengan guyonan sambil minum kopi kawa daun,  ada seseorang menghampiri mereka.
“Hmm.. mau kemana Junai”, ujarnya.
 Junai membalas sapaan itu, “Wahh. Apa kabar Dayat?.Kami mau ngaspal alias jalan jalan ke kota Bukittinggi . Kamu sedang apa di sini.?” Tanya balik .Ternyata seseorang itu Dayat, teman kuliahnya dulu yang berdomisili di Batusangkar .
“Ini warung orang tua ku Junai. Makanya aku disini bantu bantu meraka, dan motor hitam itu motor ku, gimana keren gag?”
Junai terkejut dan tersipu kegirangan, “ Wahh keren sekali. Kalu udah jodoh tidak kemana- mana ya..”
Mereka pun menghabiskan waktu bercerita bersama –sama, karena telah lama tidak bersua sejak tamat kuliah.
Sudah 30 menit mereka beristirahat, akhir cerita Junai mengajak Dayat untuk ngaspal bareng ke Bukittinggi, dan Dayat pun mau nagaspal bareng mereka. Perjalan ke Bukittinggi lebih kurang satu jam dari tempatnya.
Junai, Punco, Midun, Acong, Kundo, dan Dayat  menunggangi motor mereka masing- masing untuk melaju ke kota wisata yang asri lagi permai yakni Bukittinggi. Akhirnya mereka sampai di tujuan dengan selamat. Dan motor merekapun berbaris gagah  di depan  ikon Bukittinggi yaitu Jam Gadang. Mereka tidak lupa untuk mengabadikan moment malam itu sambil berteriak “ Welcome Jam Gadang”!
***
Perjalanan  Djahanam
“Doa adalah lagu hati yang membimbing ke arah singgahsana Tuhan meskipun di tingkah oleh suara ribuan orang yang sedang meratap.”Khalil Gibran.
Malam di selimuti kabut perbukitan, aku berjalan menuju pusat kota dari kampungku, tempat aku lahir hingga dewasa, kampungku kecil berada ditengah kabupaten yang pesat oleh tambang emas, tetapi kampung kecilku akrab di kenal orang dengan sebuah masjid megah di tepi ruas lintas sumatera, bahkan sering di singgahi oleh musyafir dalam perjalanan untuk melaksanakan perintah dan mengabdi pada yang kuasa. Malam pun semakin larut, hiruk pikuk jalanan menemaniku dalam kesendirian yang sedang mengendarai kuda besi untuk mencapai pusat kota. Seiring laju kenderaanku, terasa ada yang bergetar di kantong sebelah kanan celana jin yang aku pakai, membuatku geli dan ingin melihat apa yang terjadi didalam kantong itu, sebenarnya getaran ponselku yang dirasuki pesan pendek.
Seraya aku ingin menghentikan sejenak perjalananku yang berada di tengah pesawangan yang sepi. Dengan rasa cemas bercampur misteri, aku lekas memembuka pesan pendek tersebut,karena dibalut ketakutan dalam kesunyian. Bertita pesan pendek aku baca hingga aku menjadi gelisah . Karena isi pesan itu menuliskan” Maaf anda tidak diterima di perusahan kami terimah kasih atas partisipanya dalam melamar. TTd Panitia Rekutment”. Kelut, gunda dan gelisah menyertai perjalananku, hatiku berdetak dan berbicara, kenapa aku bisa seperti ini?. Karena aku yakin dan optimis akan lulus ujian penerimaan untuk menjadi karyawan di perusahan itu. Sebab, aku telah berusaha sekuat mungkin, dan tidak luput dengan iringan doa-doaku kepada yang esa. Kepasrahan sikap lahir dalam diriku, aku hanya bisa menerima kegagalan ini yang mengukir goresan dalam.
“ Wahai tuhan yang maha agung apa ini jalan ku, apakah ini yang terbaik untuk aku. Berikanlah aku petunjuk Mu ?” sambil memejamkan mata dalam meratapi kegagalanku.
Perjalanan ke kota aku lanjutkan dengan membawa Kekacauan dan kesedihan hati, menemani dalam perjalanan. Setiba diperbatasan kota, roda dan benen kenderaannku tidak kuasa untuk melanjutkan perjalanan.
“ pisssssss... gawat .” mengerutuk
 Lalu aku segera berhenti dan memeriksanya, ternyata sebuah paku telah menusuk kulit sampai kepermukaan roda itu, “walah kualat, apakah saya telah mendzolimi orang tadi” kekacauan semakin menggores gores-suasana malam. Masalah tidak akan bisa selesai jika aku diam dan mengerutuk terus. Lalu, aku dorong  motorku sambil mencari sebuah bengkel.
Selama pencarian itu, aku tak lepas dari kalimat “ apakah ini ujian untuk hambamu, astaghfirullah, ampuni daku ya rob!”. Suasana malam semakin dingin dan kabut perbukitan semakin tebal, jarak padangaku terhambat. Langkah demi langkah dengan hembusan napas kelelahan selama satu kilo meter berjalan kaki sambil mendorong kuda besiku roda dua, bengkel tak juga kunjung di temukan. Maka aku  beristirahat untuk menghilangkan rasa keram di kakiku, sambil duduk di sebuah loneng di tepi jalan dengan melemaskan tubuh yang kaku. Selama sepuluh menit istirahat,  aku segera melajutkan pencarian, hanya beberapa meter saja berjalan, terlihat di ujung yang tertutupi oleh pagar rumah ada plang merek yang bertuliskan tambel ban yang di sinari oleh cahaya lampu redup. Langkah kaki dipercepat dan semangat pun mulai muncul penuh dengan harapan supaya lepas dari segelintir penderitaan, akhirnya kenderaan pun pulih, aku segera  melanjutkan perjalan kediaman kosan Dinul adik kandungku yang masih kuliah, kemudian tiba dikediaman Dinul. “tok tok.. aslamualaikum” mengetok pintu kamar Dinul, ia pun terbangun dan segera membuka pintu, oh uda” jawabnya mengantuk. Tanpa banyak basa-basi aku masuk dan meletakan  rangsel hitam di sebelah lemari reok, “uda (panggilan kakak laki-laki di minang) sangat letih, mau istirahat dan besok pagi uda akan pergi mencari kerja, perusahan kemarin uda tidak diterima” ujarku sambil terbaring di atas kasur hingga aku tertidur pulas.
Hampir  seminggu, aku hanya mencari dan mencari informasi lowongan pekerjaan untuk sarjana penuh (S1), bahkan setiap jejeran kantor-kantor aku singgahi, namun tidak kunjung dapat. Melintas lah dalam pikiran sebuah putus asa, aku pergi ke pantai untuk melepaskan pikiran yang sedang merong-rong hariku. Siang itu di sinari mentari bersama sepoi-sepoi angin di atas karang-karang  besar,dengan serpihan ombak membasahi sekujur kakiku yang menjuntai. Ponsel kecil kepunyaanku yang aku letakan di atas karang, berdering hingga memecahkan semua pandanganku ke laut, ternyata sebuah panggilan untukku dari mama.
“Assalamualaikum, ada apa ma?”
“ Waalaikumsalam, apakah kamu sudah dapat pekerjaan?”
“Belum ma, ntah kapan aku bisa mendapatkannya?”jawabku lemas
“ Jika begitu, bisakah kamu ke kampung sekarang”kembali tanya mamaku.
“Ada apa ma, Hingga mama mendadak menyuruhku pulang?”
“Jangan di tanya sekarang, di rumah saja! Itu pesan papa”tegas mama.
“Baik ma!Tafit sore ini langsung berangkat”
***
Hembusan angin siang itu, berubah menjadi sore berwarna Jingga, laksana  penasaran mendidihkan panas, drama suara apalagi yang akan menemuiku. Perjalanan empat jam lebih kurang aku nikmati tanpa kendala apa pun, hingga aku malam sampai di rumah. Setiap sudut rumah aku tatap tidak satu pun yang berubah, hawa damai masih terasa. Tetapi, ada seorang yang aku tidak tahu siapa mereka, sangkaku mungkin teman orang tuaku, karena mobil hitam parkir di depan rumah, aku segera masuk ke rumah,untuk ingin tahu siapa tamu itu.
“Assalamualaikum”
“ Waalaikumsalam” mereka didalam serentak menjawab.
“Ini anak ku Tafit sudah datang dari kota, nak ini datuak Sidi dengan temannya juragan Burhan” terang mamaku,
Aku masih belum tahu ada apa mereka datang kerumah, bahkan orang itu asing bagiku. Lalu aku pergi kekamar untuk meletakkan tas dan helemku. Seiring aku kekamar Datuak Sidi dan temannya pamit untuk pulang, dalam sela pembicaraan itu aku mendengar hal yang penting “ jangan lupa aku besok aku akan kesini lagi, dan membawa anakku” tutur Datuak Sidi.
Pagi yang berembun, cuaca yang sejuk menemaniku di teras rumah, dengan tangan di kepala, memikirakan teka-teki itu. Mamaku masih menutup mulutnya tak mau bicara padaku, sama halnya papa, tak keluar dari kamar. Matahari pun beranjak di tengah atap rumahku, hampir akan aku jawab teka-teki itu, tepat pada serombongan keluarga Datuak sidi datang ke rumahku beserta anak tunggalnya yang seorang janda beranak satu.
Ke akraban dua keluarga sangat terlihat, tawa dan cerita bertebaran, tetapi inti persoalan belum nampak, aku tetap menguping pembicaraan mereka dan tak mau duduk bersama.
“Tafit duduk ke sini ada yang ingin kenal”saut mamaku
“Iya ma, sebentar”
Aku pun ke sana, duduk bersama mereka, lalu aku kenalkan diriku samapai anak pak Datuak Sidi itu di kanalkan padaku, sungguh aku tidak menyangka ternyata mereka menjodohkan aku dengan anak nya. Sebab, orang tuaku ingin balas budi mereka, bahkan demi sebuah status sosial, yang bergantung pada adat istiadat. Sungguh aku terasa jatuh, badanku terasa ngilu tak berdarah,.
 Tepat waktu itu pada akhir bulan September ia tersudut didalam  gelisah yang sangat membunuh dan hampir sirna semua bintang bintang ku. Seperti matahari yang telah menertawakan ku . Hingga  berfikir tuhan tak adil, dunia itu status, kita lahir petaka, cinta itu nafsu, pendidikan itu topeng, karena semua orang tidak bisa memahaminya, termasuk orang tua yang aku cintai. Malah mereka menyalahkan dan menuding dirinya seperti sampah kering di basahi air yang membusuk di tengah hiruk pikuk pasar, karena orang tuaku yang terlalu memikirkan konsep hidup, status dan adat yang menimbulkan ke khawatiran berlebihan yang menuju ke lemahan. Dan akhirnya aku lemah ,hingga aku sering murung bahkan menekam diri sendiri di kamarnya sampai terlintas dalam pikiraku kapan perjalan djahanam ini akan berakhir.
***

Segumpal Kertas dalam Cerita Buta*
Ditulis oleh : Fadhlur, R A. IDFAM250M (Sijunjung- Sumatera Barat)
“Hidup adalah kegelapan jika tanpa hastrat dan keinginan. Dan semua hastrat-keinginan adalah buta, jika tidak disertai pengetahuan. Dan pengetahuan adalah hampa, jika tidak diikuti pelajaran. Dan setiap pelajaran akan sia-sia jika tidak disertai cinta”Kahlil Gibran

Angin laut berhembus seakan mengusir kegersangan siang tadi, debu yang beterbangan, desiran daunan pinus mengeleng kian kemari menari menikmati cuaca sore itu. Aku berdiri tertegun dan memberhentikan langkah tepatnya di depan perpustakaan kampusku. Dihadapanku banyak mahasiswa lain duduk berkumpul dengan teman-temanya disebuah taman rindang sebelah gedung perpustakaan,Taman Seribu Janji itulah suatu nama pemberian dari mahasiswa-mahasiswa kampusku, untuk lebih singkat disebut mereka dengan TSJ, karena mahsiswa-mahasiswa kampusku pada membuat janji di taman itu, hingga dari generasi ke generasi.

Disampingku terletak segelas kopi yang kira-kira disuguhkan satu jam yang lalu, aku meminum sehirup kopi yang sudah tidak panas lagi sambil melihat mahasiswa-mahasiswa yang penuh dengan cerita, ada yang bercerita siapa cowok yang kemaren disampingmu, kapan kita shoping bersama lagi,  aku punya barang baru nih, kemana bagusnya kita liburan, yang lebih gila mengunjing para dosen-dosen, sungguh cerita mereka buta, tapi mau gimana lagi, itu lah kehidupan kampusku.

Diiringi deruan suara knalpot motor dan mobil yang di kendarai mahasiswa sudah satu-satu meninggalkan areal kampus dan berangsur pulang, suara gelas yang bersentuhan sudah terdengar, berarti si pemilik kantin sudah mulai mengemasi jajanannya, karena kantin itu bersebelahan dengan TSJ,  matahari pun sudah semakin condong ke ufuk barat dan hampir tenggelam ke dasar laut. Tapi aku belum jua beranjak dari tempat dudukku, merenungkan dalam ke sendirian, sambil menulis sebuah untaian hati di balut emosi, lalu aku mendengar seorang memanggilku dari arah utara,

“ Wahai Fatir mengapa dikau sendirian ditaman itu, sedang apa?”dari kejauhan

Kemudian aku menolehkan mukaku ke sumber suara itu.Ternyata Jefri teman seangkatan ku, aku dan dia mempunyai banyak kesamaan, pertama warna kulit sawo matang, rambut sama-sama hitam, bahkan hobi aku dan dia sama hobi menulis dan menulis, seperti pepatah diiklan TV “talk less do more” sedikit bicara banyak kerja. Contohnya sewaktu aku bersamaannya duduk ditaman sambil memegang sebuah pena dan kertas, dan menulis apa yang ada dalam emosi pikiran, hingga menimbulkan suasana sepi dan sunyi.

“Tungu aku disana, cerita baruku akan menyampirimu” suara lantangnya

Lalu ia mendekatiku,dan memukul pundakku, sembari Jefri menatap tulisan yang ada dikertasku.

Tidak ngapa-ngapain hanya duduk sambil menulis apa yang teruntai dalam emosiku saja. Jefri dari mana, kok bisa munjul dibelakang ku? Seperti jailangkung aja, nongol kapan kamu mau, aku lama menunggu kamu disini, untuk duel bikin tulisan emosi emosi kita lebih rame.

“tadi aku sedang mencari  sesuatu yang hilang!” dengan wajah serius

“ Hilang! Kamu kehilangan apa?” tanyaku balik.

“ Aku kehilangan teman ku yang bernama Fatir” dengan guyonnya

“ Walah kamu becanda terus , aku tanya benar kamu jawabnya ngelantur”

“ Aku lihat wajah kamu sangat kusut, jangan serius hadapi emosi itu Hahahahah” ia tertawa.
Angin pun berhembus agak kencang, awan berubah kehitaman, kelihatannya hujan akan turun, ayunan dedaunan menari kegirangan menyambut kedatangan hujan,semua penerang tiap sudut gedung menyala, begitu juga dengan lampu di setiap ruas jalan pun mewarnai senja,  selang waktu semenit tetesan air pun turun dari langit membasahi dedaunan ditaman, lalu Aku dan Jefri pun beranjak dari taman menuju teras gedung perpustakan untuk meenghindar dari tetesan air yang akan membasahi sekujur tubuhku.

“Jefri sudah cebok kamu, pasti belum, gagara kamu gag cebok hujan deh”gurauanku,

“Yah kamu yang belum mandi, disuruh mandi hujan tuh Fatir” balas Jefri dengan gurauannya.

Semilir angin dingin telah mulai membalut kulitku, aku tak kuasa untuk menahan, tersa menusuk ke tulang sendiku, hujan pun reda, namun angin masih berhembus, “Jefri gimana sekarang kita pulang, aku merasa dingin sekali, ntah apa yang terjadi pada ku, tersa angin ini duri”

“Oke bos! Motor kamu dimana?”tanya Jefri

“Di samping Pos penjagaan itu, ini kuncinya Jef!” jawab ku 

Aku pulang berboncengan motor bersamanya, aku pegang erat tas kepunyaanku, biar aku terlindung dari dinginya angin senja. Adzan maghrib berkumandang aku tiba dirumah, aku segera saja meyongsong kearah kamar ku, sambil melemparkan tas yang aku peluk erat tadi ke arah meja di dekat Televisi, setiba didepan dipan kamar, aku bantingkan seluruh tubuhku keatas dipan itu tampa aku ganti baju,yang habis seharian aku pakai, lalu Jefri menengokkan kepalanya disela pintu kamar ku,

“Mungkin kamu keletihan aku liat wajah kamu agak pucat”

“ Iya Jefri, badan ku menggigil dan kepalaku agak pusing” jawabku terkapar dan badanku diselimuti oleh selimut tebal.

“ Kalau begitu, aku pulang dulu yah!  gimana aku bawa aja motor mu kerumah ku?

“ Iya Jefri, kayaknya aku besok tidak masuk kuliah, apakah kamu izinin aku atau ambil absensi aku yah?

“ Sip Bos! Itu masalah geleng, Jangan sebut nama aku Jefri, yang lebih penting kamu cepat pulih kembali dan kita bisa mengukir tulisan diatas kertas bersama cerita buta ditaman TSJ ” sambil mengasih jempol kearah Fikri.

Hari esok pun tiba, badan aku masih tersa panas dingin, begitu juga kepala ku semakin  terasa panas, karena semalaman aku tidak bisa tidur, yang di hantui oleh badan yang menggigil dan pikiran kacau, hingga mata tidak mau terpejamkan. kemudian aku mengambil obat yang ada di kotak hijau diatas meja belajarku, seiring doa dan harapan, aku harus sembuh hingga besok, lalu aku telan obat itu dengan segelas air putih, aku pun tertidur kembali setelah mengkonsumsinya.

Kring, kring,,, irama bunyi ponsel ku memanggil, satu panggilan tidak aku hiraukan, aku biarkan saja berdering, karena rasa badan ini berat dan mata melekat untuk menjangkau benda yang berisik itu, pada waktu hitungan ketiga panggilan ponsel itu, aku buka mata yang melekat, dan aku tegakkan badan yang berat,untuk mengetahui siapa yang sedang memanggilku, akhirnya, aku mengambil ponsel itu, kemudian terdengar lah sebuah suara  yang sangat asing dalam telinga ku.

“Hallo, maaf mengganggu pak” ujar sura itu kepada ku

“Iya Hallo, maaf ini siapa?”

“Maaf sebelumnya, saya memeriksa panggilan terakhir diponsel ini nomor ponsel bapak, lalu aku hubingi aja nomor ini, sebab,,,” dengan terbatah batah ia berbicara.

“Sebab,, sebab apa pak? Ini nomornya Jefri kan?” aku baru sadar bahwa nomor ini, nomor ponselnya Jefri. “ Pak sebenarnya apa yang terjadi pak? Sautku penasaran.

“Tenang pak, sebab, Jefri sedang di Rumah Sakit Umum Pancoran, dan dia dalam keadan sekarat, karena musibah tabrakan 10 menit yang lalu ”.pungkasnya

Mendengarkan penjelasan itu badanku lansung menggigil ketakutan dan cemas hingga  berkeringat, dan mataku perih hampir meneteskan air. Aku pun bergegas beranjak dari kamarku dan segera pergi ke Rumah Sakit Umum (RSU) Pancoran,. Seling waktu 15 menit perjalan dari rumah ku ke RSU Pancoran, baru saja aku menginjakan kaki di gerbang rumah sakit itu, ponsel ku berbunyi kembali, cuaca pada hari itu cerah tepat pada 23 juli. Namun, ponselku bercerita lain, ketika aku mendapatkan sebuah berita, yang membuat badanku tersender kaku diloneng gerbang, cuaca pun terasa berubah, daun-daun tersa pada berguguran, “kenapa kau lekas meninggalkanku, cerita-cerita buta itu masih terbangkalai dalam ukiran kita” aku sedang meratap kaku memandang segumpal kertas yang aku ukir dengannya yang aku ambil dari tas hitam ku, 

Setelah kepergiannya, Hari-hariku pun berubah menjadi sunyi sesunyi malam, aku tak mau menginjakkan kakiku ke Taman Seribu Janji itu, segumpal kertas yang aku ukir bersama dia, aku simpan pada kotak kecil dalam lemariku. Semenjak itu, cerita buta hilang, leyap bak ditelan ombak, sampai aku diwisuda dan menjadi sarjana.   

Setahun setelah aku diwisuda, selama satu minggu, setiap tidurku, aku dihadiri oleh mimpi yang menggambarkanku bersamanya, hingga disela aktifitas kerjaku, aku teringat dengan kenangan kenangan itu, yang paling terbesir dalam pikiranku adalah Canda tawa yang selalu mengisi waktu luangku bersama Jefri dulu, dan segumpal tulisan cerita buta itu.

Mataku mulai menyoroti  satu demi satu gundukan buku, baju dan benda benda yang ada dalam lemari, mataku pun terpusat pada satu benda, yaitunya kotak kecil yang berisi segumpal kertas yang aku simpan tahun lalu. Sewaktu mataku terarah pada kotak itu, aku merasakan ada bisikan untuk membukanya, dahulu aku menyimpannya dan tak ingin lagi untuk mengenang masa itu, malah perasan itu semakin kuat, dan menimbulkan selaksa misteri ingin tahu. Maka aku buka lah kotak itu, lalu tanganku mengambil segumpal kertas dan membacanya sehelai demi sehelai. Pada tulisan paragraf terakhir,

Seperti banyak hal aku berharap aku tidak melakukan
Tapi aku terus belajar , dengan cerita buta
aku telah menemukan alasan untuk aku
Untuk mengubah siapa aku dulu Dan harus aku katakan sebelum aku pergi
,
Sebuah alasan untuk memulai kembali dalam cerita buta, sebab kau menulis bukan dengan sesuatu yang buta Karena itulah aku ingin kamu mendengar dan alasannya adalah kamu”.
Aku mengingat-ingat kembali kejadian bersama dia di TSJ, sebab aku sama sekali tidak tahu, "oh iya"ingatku, sewaktu itu ia menatapi tulisanku di Taman Seribu janji, dan Pada waktu itu pun hari mau hujan, aku lupa untuk memasukan segumpal kertas kedalam tas ku, lalu ia selipkanlah sebuah kertas tulisannya pada segumpal ikertas ku. Akhirnya rasaku pun ingin kembali dalam mengukir cerita buta.
****

PAKTUA DENGAN SECANGKIR KOPI*
Pada suatu malam yang dingin diselemuti oleh debu perkotaan dan dihebohkan dengan hiruk pikuk kenderaan yang berlaju kencang, klakson mobil terdengar jelas dari semua sudut jalanan, terlihatlah acik yang berusia 23 tahun sedang menenteng tas kumal ditangan sebelah kanan, tas yang ditenteng pemuda tersebut sudah tak layak dipakai untuk membawa perlengkapan apapun karena robek dan rapuh, dilihat dari wajah dan penampilannya, ternyata dia seorang mahasiswa semester akhir disalah satu perguruan tinggi di kota Padang, dengan membawa serabut lelah, letih berbaur dengan emosi yang mendalam sepulang dari sebuah tempat kumuh yang berada jauh dari perkotaan untuk menuju kediamannya dipikingkir komplek perumahan dekat kantor kejaksaan, Acik berhenti sejenak pada sebuah warung dekat rumah yang dia sewa alias kos-kosan, biasanya warga sekitar menyebut dengan warung kopi mbak Mun, lalu ia meminta segelas kopi, kemudian Acik duduk di kursi sebelah kanan warung, dan dia tak sadar bahwa kursi yang dia duduki itu agak rapuh, menggambarkan apa yang terjadi pada dirinya yaitu perasaan yang rapuh.
Selama satu menit lebih kurang ia mencicipi kopinya, terlihat dari sudut pandangan mata Acik tersebut. Ada seoarang Paktua yang berjalan tegap tinggi, memakai kopiah hitam dan mengeluarkan siulan-siulan kecil sambil menoleh sana-sini. Paktua itu singgah di warung yang sama dengan Acik. Setiba Paktua di warung mbak Mun, terlontar dari mulut Paktua itu “mbak Mun Kopi satu cangkir”, dengan tidak menoleh sedikit pun kepada Acik yang duduk hampir berdekatan dengannya. lalu Paktua itu mendapatkan  segelas kopi, dia mengeluarkan rokok dari dalam saku bajunya, dan tak sadar Paktua itu lupa untuk membawa korek api, biasanya korek api seiring dengan kotak rokok yang ia bawa, dan dia ingin sekali menyalakan rokok yang akan dia hisap, Paktua itu langsung menoleh pada Acik, dengan tidak menanyakan korek api tetapi Paktua itu menanyakan “dari ma yuang..? (dari mana nak?) karena Pak tua itu melihat seorang Acik sedang melamun kosong dan Acik pun langsung menjawab dengan singkat pula “dari kampung jambu Pak” dengan nada lemas alias tidak keras, Pak tua tersebut bertanya lagi “ dima kuliah? (di mana kuliah?)” dengan tidak memikirkan apa yang ditanyakan Paktua, Acik menjawab dengan polosnya “ di kampus Pak”, Paktua enggan untuk bertanya lagi, seiring dengan pertanyaan terakhir Paktua itu membelajari  apa yang terjadi pada Acik dan akhirnya Paktua itu menanyakan korek api kepada Acik karena dia sedang merokok pula, dan Paktua menyalakan sebatang rokok yang akan dia hisap sambil menghirup aroma kopi mbak Mun.
Silang waktu semenit Acik mencermati apa yang terjadi dengan jawabannya. Di dalam bisikan hatinya berkata “ ya ampun.. aku salah menjawab pertanyaan dari Paktua itu” dengan kesalnya. Sebelum Acik akan minta maaf kepada Paktua dari jawabannya yang salah itu, Acik sungguh terbawa dalam suasana malam yang nikmat dengan secangkir kopi mbak Mun, dan timbul rasa segannya untuk minta maaf, lalu Paktua mengeluarkan segengam syair puisi yang tertulis dari kertas buram yang ada di belakang kotak rokoknya, dan beliau membacanya satu demi satu bait puisi itu ;
Rindang Tak Berbuah
“Tertawa langkah kaki tegapik
Harap seribu kata demi kata tepat
Hiruk pikuk terdengar melingkari atap
Semua tinggal gelap
Wahai pelita
Berikan aku segelas tuak putih!
Akan meremukkan tawaku
Muka tampa malu
Meremukan semua yang semu
Kau terlamun dalam mimpi”.
Bait demi bait puis itu Acik menyimak dan mencermati tiap-tiap makna yang tersiratdi dalamnya yang diucapkan oleh Pak tua. Setelah Paktua berhenti dalam membaca syair tersebut, Acik pun langsung mejulurkan tangan kanannya dan melontarkan kata maaf pada paktua, dan Paktua tak mengujurkan tangannya, karna ingin bertanya satu kata demi kata yang tepat, “ada apa gerangan pemuda, hingga kau menjulurkan tanganmu dan melontarkan kata maaf pada aku, apa pasal kau seperti itu, apakah aku telah menyinggung kau dengan syair ini?” dan Acik lekas menjawab “demi tuhan yang aku sembah, sesungguhnya bapak tak membuat aku tersinggung dan sungguh, bapak membuat aku kuat dengan syair yang bapak bacakan, malahan aku mendapatkan suatu pelajaran. Paktua menyambuti dengan senyuman, lalu paktua bertanya kembali “apa yang membuatmu kuat dan menjadi sya’irku pelajaran untuk mu” kemudian Acik tampa enggan menjawabnya “ sewaktu bapak membaca tiap-tiap bait syair itu, aku mencermati dan menafsirkan dalam perasaanku dan syair itu adalah suatu bentuk penjelmaan permasalahan dalam diriku”, dan Paktua spontan memotong perkataan anak muda itu “ begitu kah?” kata pak tua, Acik menjawabnya “ iya Pak”  lalu Acik melanjuti penjelasanya “ dalam sya’ir itu akulah lelaki tersebut karena aku yang masih muda dan tegap ini belum bisa menyikapi apa yang ada disekitar dan selalu mengambil tindakan bodoh yaitu ceroboh dan tidak berfikir sebelum berbicara, dan seketika aku menjawab apa yang ada dihadapan saya, selalu dengan ceroboh karena dihantui oleh masalah yang telah berlalu dan saya terlamun oleh masalah-masalah”, Paktua membenarkan apa yang dijawabnya dari pertanyaan itu.
Seirama antara dialog Acik dengan Paktua yang sangat mendalam, Paktua pun menatapi secangkir kopi di atas meja warung mbak Mun, Paktua “anak muda!  lihat kopi itu berwarna hitam,  apabila kita meminumnya atau mencicipinya terus menerus kita pasti kecanduan denagan kopi, dan begitu juga kehidupan, kehidupan itu laksana kopi hitam jika terlamun dalam kecanduan dunia, kita akan membuat hidup ini hitam karena setiap yang mencandukan itu sakit, karena kita terlamun dan tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Apakah anak muda mengerti apa yang saya jelaskan, mungkin suatu saat anak muda akan menemukan jawaban ini dan tak akan menemukan orang yang seperti ini”. Acik  meneteskan air mata setelah mendengarkan olesan dari Paktua dan dia sadar dengan kesalahannya yang telah berlalu. Terlintas dalam pemikirannya kenapa orang yang sama sekali dia tidak mengenalinya dan tak tahu siapa dia dan ia mau memberikan sesuatu hal dan suatu  pelajaran yang membuat saya terkesima karena pelajaran itu sama sekali belum pernah saya ketahui sebelumnya, itu lah yang tergores dalam perasaan Acik.
Seiringnya secangkir kopi Paktua itu habis, dan Paktua pun langsung berjalan pulang menuju kerumahnya yang ada didekat pendopo seberang jalan raya, dan Acik tak sadar bahwa Paktua itu telah beranjak kaki dari warung, karena dia masih terkesima oleh olesan syairnya Paktua, kemudian Acik bertanya dalam dirinya, “apakah saya telah mengucapkan terima kasih dan apakah saya telah memperkenalkan diri saya kepada bapak itu, siapa engkau bapak tua? ” berucap dalam hatinya, maka timbul tekad Acik untuk harus mengucapkan terima kasih dan menganal Paktua itu lebih jauh dan ingin tahu siapa sebenranya. Malampun telah jauh berputar, disertai rasa penasaran yang sangat mendalam, hingga dia juga beranjak pulang ke rumah kosannya yang berada dekat dengan warung mbak Mun, setiba dia dikamarnya, dia pun membantingkan seluruh badannya keatas kasur empuk untuk melepaskan dari cengkraman letih dan emosi dari bermacam aktifitasnya seharian, lalu  iapun tertidur pulas hingga fajar tiba esok hari.
Semalam dia tak sabar untuk menunggu hari esok, untuk bersua dan berkenalan dengan Pak tua, yang telah memberi sebuah nasehat dan motivasi secara tidak langsung sewaktu bertemu diwarung mbak Mun. Fajar diufuk timur telah tiba tepat pada tilawah adzan subuh “hayya’alassolah” dan dia pun terbangun dari lelapnya tidur, untuk melaksanakan suatu tuntunan wajib  kepada sang kholiq yaitunya ibadah sholat subuh,  serumpun doa dan zikir menuntunya untuk khusuk menggapai semua harapan dan cita citanya.
Rintik hujan mengawali hari, tak ada sinar mentari. Mendung menjadi tirai menutup sang surya. Namun tekatnya tidak semendung awan yang menutupi sang surya itu, Acik lalu menyinggahi warung mbak Mun disela rinai air hujan. “Mbak Mun Paktua yang ngobrol sama saya tadi malam, dimana rumahnya mbak” acik bertanya kepada mbak Mun sambil menyibaki rambutnya yang basah oleh hujan, “oh pak Kusumo Namanya. Dia tinggal dekat sini juga, tepatnya diperampatan ujung dekat bandarkali No 44” pungkas mbak Mun menjawab. Acik lalu beranjak pergi dari warung itu dengan langkah kaki berlumur penasaran menuju alamat tersebut. Tibalah dia dirumah yang dia tuju, tok tok.. assalamualikum” tangannya sambil mengetok pintu, “ukhuk uhuk’’Waalaikumsalam” sembari jawaban suara dibalik pintu, dan menjelma dalam pandangannya sampai rona merah diwajahnya tersipu malu, sebab suara itu adalah suara Paktua yang dia cari, “ kamu nak, silahkan masuk, ada apa gerangan hingga sampai kerumah” sambut Paktua mempersilahkan duduk. “ kaki dan hatiku lah yang membawa aku kemari Pak untuk bersua dengan bapak,”ulas Acik menjawab.
Acik dengan tubuh tegap duduk di depan meja tamu, tak kuasa untuk bertanya, namun Paktua yang mengawali perbincangan itu, lalu suasana keakraban pun timbul dan menjadi sebuah perbincangan hangat, hingga Acik mendapatkan jawaban dan terhapus dari  sebuah penasaran itu. ternyata Pak tua tersebut bernama Kusumo dininggrat berusia 75tahun dia adalah seorang pensiunan PNS (Pegawai Negeri Sipil) khususnya seorang guru, dia mempunyai buah hati satu pasang, dia sudah sepuluh tahun ditinggal hidup oleh istri tercinta,  tak kalah hebatnya lagi dia pernah memimpin perusahan dimedia masa lokal, disebabkan semasa dia menjadi guru sekolah guru tingkat atas (SGA) pada masa setelah penjajahan, dia sering menulis hingga tulisan dan karya puisi yang dia buat termuat disetiap media masa, sampai dia dianggkat jadi redaktur hingga menjadi orang nomor satu diperusahaan, Itu hanya sepenggal tentangnya, namun sepenggal itu membuat Acik semangat dan menambah warna kehidupan yang baru. Rinai hujan pun redah, obrolan demi obrolan telah mengalir, tibalah waktu untuk pulang, jarum jam beranjak ke angka enam bertanda magrib akan tiba. Acik segera melangkahkan kaki dan mengakhiri pertamuannya dengan ucapannya salam. 
Minggu penuh warna membawa wahana baru, setiap pulang dari kuliah, Acik luangkan waktu untuk singgah kerumah pak Kusumo, diskusi dan tukar ceritapun mengisi wahana hari-hari Acik untuk menambah pengetahuan tentang kehidupan ini, Satu dua dan tiga dia  memberikan sebuah buku kepada Acik dari koleksi kecil perpustakaannya. Buku bukupun bertaburan, waktunya diisi dengan membaca, hingga dia tak luput membawa tas kumalnya yang berisi buku buku karena itu semua adalah referensi menuju pelangi “kalau kau ingin mengelilingi dunia berbanyak lah baca buku karena buku adalah ibu pengetahuan, yang akan membawa engkau kemana engkau mau” Pungkas kalimat yang mengingatkan selalu dalam jalanya.
***






   


    




 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar